Muntazir: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Jadi Atlet Renang - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Rabu, 28 Februari 2018

Muntazir: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Jadi Atlet Renang


Pada hari Jumat itu sekitar pukul 17.00 WIB, saya menuju ke jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang terdapat di Kampus C Untirta, Serang. Bermaksud untuk bertemu dengan seorang laki-laki yang mempunyai banyak prestasi walaupun dalam keadaan tidak normal sejak lahir atau keterbatasan fisik. Adalah Muntazir, seorang laki-laki yang memiliki keterbatasan fisik atau tidak normal yang berusia 22 tahun yang berhasil saya temui pada saat itu. Ia adalah seorang atlet renang tingkat provinsi Banten.
            Sejak tahun 2002 saat ia masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah mejadi peserta lomba renang hingga akhirnya dipercaya sebagai atlet renang hingga sekarang, kepercayaan ialah yang membuat cita-citanya tercapai sebagai seorang atlet. Hobi renang sudah sejak tahun 2002 dan hingga sekarang  tak perlu diragukan lagi kehebatannya, pertemuan pada sore itu ia banyak bercerita mengenai masa perjalanan hidupnya selama 17 tahun berkarir sebagai atlet renang di tingkat provinsi Banten. Tak hanya menjadi atlet renang saja, ia juga sebagai atlet kursi roda dan solo vokal yang dulunya diresmikan sebagai salah satu atlet renangnya saja di tingkat provinsi Banten.
            Laki-laki itu kelahiran tahun 1995, ia juga bercerita begaimana perjuangan ia untuk mencapai cita-citanya sebagai atlet walaupun memiliki keterbatasan fisik atau tidak normal. “Pertama-tama sangat-sangat berterima kasih kepada kedua orang tua yang sudah melahirkan ke dunia ini dengan memberikan support. Sangat bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini walaupun memiliki keterbatasan fisik, dalam kondisi seperti itu bisa menjadi lebih baik dan sudah berhasil membahagiakan kedua orang tua atas prestasi yang telah dicapai walupun belum 100% menjadi orang sukses,” katanya bercerita.
Setidaknya ia sudah membuktikan kepada orang tuanya tidak hanya orang normal saja yang bisa sukses akan tetapi walaupun memiliki keterbatasan fisik ia masih tetap bersemangat menjalani hidup dan membahagiakan kedua orang tuanya. Sejak masuk SMP kelas 1 dalam kegiatan praktek renangnya dari sekolah, ia tidak diizinkan berenang di area dewasa tetapi ia bertekad untuk mencoba tanpa sepengetahuan gurunya hingga akhirnya ia terus mencoba walaupun hanya bermodal keyakinan dan bertekad kuat di dalam dirinya.
            Sewaktu kelas 3 SD di Lampung ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya ke daerah Balaraja dan diasuh oleh nenek dan kakeknya, sekitar sebulan sebelum UAS SD ia meminta kepada orang tuanya untuk pindah sekolah di daerah Balaraja, semenjak kelas 6 SD di Lampung pernah berfikir kalau dia ditelantarkan dari orang tuanya dan bertempat tinggal bersama kakek dan neneknya. “Ketika lulus SD pindah dari kota Lampung ke kota Balaraja dimana tempat tinggal orang tua sekarang. Sempat berhenti sekolah selama 2 tahun ketika mau melanjutkan pendidikan ke SMP, karena faktor orang tua belum percaya takut terjadi hal tidak menyenangkan seperti penculikan dan dijadikan sebagai orang pinggiran (pengemis)” katanya bercerita masa kecilnya, Jumat (23/2/2018).
Selama ia bersekolah dari SD hingga kuliah tidak ada kendala yang dia alami dari luar dugaan atau hal yang tidak diinginkan. Bagi dia renang itu hal mudah yang ia capai karena awal pertama ia mencoba renang dari kelas 1 SMP di Balaraja. Dia terus berjuang dan melatih dirinya sendiri walaupun beberapa kali ia mengalami kesulitan dalam hal renangnya tetapi ia terus mencoba kembali karena dengan keyakinan ia dan bertekad untuk bisa melakukannya. Semenjak duduk di kelas 2 SMP ia telah di ajak event lomba renang khusus kebutuhan khusus yang diadakan setiap tahun yang namanya Olimpiade Siswa Nasional, pada saat itu pihak dari sekolah sedang mencari atlet renang walaupun ia belum betul renang akan tetapi ia berfikir “saya bisa, saya bertekad kuat untuk menjadi seorang atlet” katanya. Mulai dari situ ia mempunyai pelatih renang dan dipercaya memiliki potensi oleh pelatihnya.
Pada tahun 2015 ia mengikuti event lomba renang gaya bebas 50 meter membuat prestasi pertama kalinya ia capai di tingkat provinsi Banten dan prestasi renangnya di gaya dada 100 meter, juara kedua di tingkat provinsi Banten. Selanjutnya pada tahun 2016 ia mengikuti event olimpiade untuk para senior-senior dan mendapatkan juara ke dua di tingkat provinsi Banten. “Motivasi terus maju, untuk di olahraga orang tua tidak mengizinkan tetapi masih bertekad untuk mencapai cita-cita sebagai seorang atlet,” katanya. Sehabis pulang dari lomba yang ia ikuti, ia menunjukan atas perjuangan ia di bidang olahraga seperti renang kepada orang tuanya dan mulai atas prestasi yang ia capai orang tuanya telah percaya.
Dari kecil memang ia mempunyai cita-cita sebagai seorang atlet nasional untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia, karena ia paling suka jika Timnas Indonesia berlaga di perlombaan. “Yang saya rasakan sebagai seorang atlet, apresiasi pemerintah kepada atlet-atlet daerah sangat kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah tetapi kepada atlet-atlet nasional pemerintah memberikan apresiasinya atas prestasi yang telah banyak dicapai. Menurut saya pemerintah sangat kurang memperhatikan untuk kepada atlet-atlet daerah,” katanya bercerita.
Pandangan ia kepada orang-orang normal di luar sana hanyalah sebagai sifat manusiawi karena manusia terlahir di dunia ini memiliki perbedaan, ada yg normal dan ada yang tidak normal, semua telahir atas kehendak izin Tuhan.  “Jika saya normal sama seperti yang lain apakah saya akan lebih baik atau akan lebih hancur, sebab kenapa saya dalam keadaan keterbatasan fisik memiliki sifat nakal seperti motor-motoran dengan kondisi seperti ini saya tidak bisa mempunyai sifat nakal,” katanya dalam menerima keterbatasan fisik miliknya.
Selain sebagai atlet renang, ia mendapatkan prestasi yang lainnya seperti juara ketiga Solo Vokal tingkat SMA dan juara satu Balap Kursi Roda tingkat Provinsi. Pada saat itu ia ingin melanjutkan prestasinya di tingkat nasional akan tetapi nahasnya Tuhan berkehendak berbeda, ketika dalam mengikuti perlombaan balap Kursi Roda ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan tidak bisa lanjut ke tingkat nasional.
Sekarang ia hanya berfokus kepada prestasi renangnya saja untuk mencapai ke tingkat nasional sehingga mengharumkan nama bangsa Indonesia. “Setiap seminggu sekali saya berlatih renang agar jauh lebih baik lagi untuk mengikuti event di tingkat provinsi pada bulan September, yang menjadi tuan rumahnya di Balaraja tempat saya tinggal walaupun saya sedang duduk di bangku perkuliahan saya akan bagi-bagi waktu saya untuk bisa latihan renang,” katanya.
 “Jangan pernah menyerah sebelum berperang, jangan pernah berfikir kita tidak bisa sebelum kita mencoba, dan saya yakin tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa kelebihan pasti semuanya memiliki kekurangan, dari kekurangan itu ada kelebihannya,” katanya sebagai motivasi untuk terus bersemangat menjalani kehidupannya dan meraih cita-citanya. (AGT/HNI/NewsroomFISIP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar