“Aku” yang melegenda sejak 1943 - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

“Aku” yang melegenda sejak 1943

Reporter : Dinda Oktavika
Redaktur : Jasmine Putri Larasati



Ilustrasi gambar : Dinda Oktavika

SERANG  Puisi adalah suatu karya sastra yang indah. Hari Puisi Sedunia diperingati setiap 21 Maret, karena eksistensi puisi di dunia  dapat diragukan lagi. Salah satu puisi yang terkenal di Indonesia adalah “Aku” karya penyair Chairil Anwar. Sejak Sekolah Dasar (SD) kita sudah diperkenalkan dengan puisi tersebut, yang ada di buku paket ataupun soal ujian. 

Puisi “Aku” di buat saat masih dalam penjajahan Belanda oleh Chairil Anwar pada tahun 1943. Rasa yang dibangun dalam puisi ini adalah rasa heroisme, kepercayaan diri, dan perlawanan. Puisi ini digambarkan cocok dengan situasi apapun dan dalam segala kondisi, tidak hanya untuk melawan penjajah saat itu, puisi ini juga bisa di kaitkan dalam situasi asmara, di mana saat perselisihan antar keduanya terjadi pasti setiap pihak ingin melawan agar tidak disalahkan. 

Puisi ini menjadi sangat melegenda karena sebelum Chairil Anwar tidak ada orang Indonesia yang mampu membuat puisi dengan menunjukan sisi “Aku” yang luar biasa. Puisi “Aku” ini terkenal karena sifat nya mewakili hasrat ingin melawan dalam segala situasi, sehingga cocok di gunakan hingga sekarang. Dan ternyata orang Indonesia yang secara pribadi ataupun kelompok inginnya melawan. 

Menurut Arif Senjaya, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta tidak ada seorang pun yang bisa memaknai puisi terkecuali penyair itu sendiri dan terlalu subjektif kalau kita mempersoalkan makna, yang dapat kita lakukan adalah memanfaatkan nya. Bagi pria 39 tahun ini, amanat dari puisi “Aku” ini adalah setiap manusia berhak menentukan jalan nya sendiri. 

“Amanat tersiratnya secara keseluruhan adalah bahwa setiap manusia itu berkat menentukan dirinya sendiri, ibarat Bahasa sekarangnya itu kita harus move on dan berani mengambil resiko” ujarnya. 

Berbeda halnya dengan Salma, Mahasiswi Untirta jurusan Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia semester 4, baginya puisi “Aku memiliki makna menggambarkan seorang “Aku” yang mencari tujuan hidup, akhir larik 'aku ingin hidup seribu tahun lagi' itu artinya Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa yang diinginkannya. Dan puisi ini dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 

“Jika di kaitkan dengan kehidupan sehari-hari seorang Chairil Anwar adalah seseorang yang tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun   rintangan menghadang. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus semangat tidak kenal lelah dalam mencari ilmu atau jati diri kita, agar tidak menjadi orang yang merugi” kata Salma. (DO/JPL/Newsroom)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar