Anak dengan Down Syndrome juga Manu - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Anak dengan Down Syndrome juga Manu

Reporter : Ari Septiahadi
Redaktur : Mulyani Pratiwi


(Anak dengan Down Syndrome sumber:tirto.id)
SERANG – Setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Down Syndrome Sedunia. Pemilihan tanggal tersebut berdasarkan karakter genetis yang menjadi penyebab downn syndrome atau sindrom down, yakni terdapat tiga kromosom ke-21 atau disebut juga trisomy 21. Anak dengan Down Syndrome (ADS) biasanya memiliki ciri fisik yang mirip. Dilansir dalam tirto.id, kemiripan itu di antaranya, bentuk mata yang menyerupai almond, wajah yang lebih rata, lidah yang cenderung terjulur, jari-jari yang lebih pendek, dan satu garis horizontal pada telapak tangan yang dikenal dengan simian crease.

Meski memiliki kelainan fisik dan keterlambatan perkembangan intelektual, selebihnya ADS sama dengan anak-anak pada umumnya. Mereka masih dapat berbicara dan memahami apa yang dikatakan orang lain. Mereka juga dapat memahami perintah-perintah dengan baik selama tidak menggunakan kalimat yang bertele-tele.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang akan pengetahuan tentang ADS. Bahkan, tidak sedikit kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah menganggap kelahiran ADS sebagai hal-hal mistis seperti, kutukan atau hukum karma. Padahal kelahiran ADS dapat terjadi pada siapa saja dan sindrom down juga bukan sebuah penyakit, apalagi penyakit menular.

Menurut Wahyu Zikriyanto, seorang guru di Sekolah Khusus (Skh), banyak orang tua yang memiliki ADS biasanya malu dan menutup-nutupi keberadaan anaknya. Stigma negatif yang muncul dari masyarakat membuat para orangtua enggan untuk mengenalkan anaknya dengan lingkungan.

“Kadang-kadang kan anak seperti ini dianggap alien atau makhluk apa. Karena memang kadang orang tua yang punya anak seperti ini kan bisanya disembunyikan, disimpan, kasarnya mah dipenjara, jadi gak pernah keluar, gak pernah mengenal lingkungan. Masyarakat juga kan jadi heran ini anak siapa, kok ada anak aneh, bentuknya beda segala macam. Ini sesuatu yang harus kita sosialisasikan kepada orangtua bahwa mereka memiliki hak yang sama seperti anak-anak pada umumnya, bahwa dia butuh pengakuan dari masyarakat gitu,” ujarnya saat ditemui di Skh Negeri 01 Kota Serang, Sabtu (24/3).

Seharusnya orang tua dan keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi mereka. Seperti yang dikatakan Alya, Mahasiswi Jurusan Perbankan Syariah.

“Mereka butuh keluarga yang hangat untuk menjadikan mereka anak yang hebat menjadi down syndrome. Tidak ada hak orang tua untuk mengutuk kelahiran anaknya dengan kondisi down syndrome. Rangkul dan ajari mereka dengan baik. Maka mereka pun akan menjadi anak yang produktif. Karena anak adalah titipan Tuhan untuk tiket menuju syurga-Nya,” terangnya saat ditanyai pendapat tentang ADS.

Keberadaan ADS tak lebih dari sebuah keberagaman makhluk yang diberikan Tuhan di dunia, sama dengan keberagaman suku dan ras. Mereka memiliki hak yang sama seperti manusia pada umumnya. Keadaan mereka bukan sebuah alasan untuk mengelompokkan manusia menjadi “si aneh” dan “si normal”. Mereka harus kita rangkul dan ayom untuk tetap bisa hidup layak.

Wahyu menganggap adanya peringatan Hari Down Syndrome sebagai Hari Peduli Down Syndrome, hal itu guna meningkatkan kepedulian kita terhadap ADS. Keberadaan mereka juga dapat diterima di masyarakat, khususnya masyarakat Kota Serang, sehingga mereka dapat bersosialisasi dan memiliki lebih banyak teman. Selain itu, kepedulian dari pemerintah pun juga diperlukan untuk dapat membuat lapangan pekerjaan bagi mereka. (Newsroom/AS/ESW)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar