Apresiasi terhadap Musisi di Era Digital - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

Apresiasi terhadap Musisi di Era Digital

Reporter : Ari Septihadi
Redaktur :  Jasmine P. L


Ilustrasi mendengarkan musik (toolsandtoys.net)






Hari Musik Nasional di Indonesia diperingati setiap tanggal 9 Maret. Peringatan ini disahkan sejak lima tahun lalu oleh Presiden Republik Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013 sebagai upaya meningkatkan apresiasi terhadap musik tanah air. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan pencipta lagu “Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman.

Dikutip dari laman Kompas.com, masalah besar yang dihadapi oleh Musisi tanah air adalah maraknya pembajakan terhadap karya dan belum adanya hukum yang jelas terkait hak cipta. Seperti yang diungkapkan Armand Maulana, vokalis grup musik Gigi.

“Kerangka hukum bagi hak cipta buat para pencipta lagu dan artis itu yang masih belum (dibenahi). Alhamdulillah kalau dibandingkan dengan tahun 80-90 sudah ada perkembangan yang signifikan, tapi belum oke," ucapnya usai mengisi acara di Konser Hari Musik Nasional yang digelar Motion Radio di Kota Kasablanka, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).

Di Indonesia, penjualan album musik melalui bentuk fisik tak pernah lepas dari yang namanya pembajakan. Alhasil, album musik yang asli tak laku, banyak penjual album musik orisinil tutup, hingga jarangnya musisi memproduksi bentuk fisik untuk karyanya.

Namun, seiring perubahan jaman, pembajakan terhadap musik pun ikut berubah. Cukup bermodalkan koneksi internet, orang dapat mencari lagu yang diinginkan lalu mengunduhnya. Tak lama, tren pun mulai berubah. Kini, streaming musik menjadi hal yang sedang digandrungi orang Indonesia.

Sebut saja YouTube, Soundcloud, Joox, dan Spotify. Keempat merek layanan streaming tersebut, secara berurutan, merupakan yang paling sering dikunjungi oleh orang Indonesia untuk mendengarkan musik menurut hasil survei Indonesian Streaming Music Consumption 2016.

YouTube menempati posisi teratas dengan alasan dapat gratis diakses. Dibandingkan dengan yang lain, YouTube memang memiliki cukup banyak konten dalam hal musik. Soundcloud juga memiliki akses gratis, namun kontennya tak sebanyak YouTube. Sementara Joox dan Spotify memiliki cukup banyak konten, tetapi aksesnya terbatas atau harus membayar untuk bisa mengaksesnya.

Salah satunya adalah Sultan M. Ashari. Mahasiswa kelahiran tahun 1998 ini rela merogoh koceknya untuk mengakses fitur berbayar di Spotify. Hal tersebut ia lakukan agar bisa bebas dari iklan saat ia mendengarkan musik dan mendapatkan kualitas suara yang bagus.

Selain streaming, musik pun bisa dibeli secara digital. Lain halnya dengan bentuk fisik, di mana kita harus membeli satu album, musik digital bisa dibeli per lagu. Sayangnya, orang-orang kurang berminat untuk membeli musik secara digital dan lebih memilih melalui layanan streaming.

Ditambah lagi, permasalahan seperti harga beli dan penuhnya ruang penyimpanan di telepon cerdas menambah ketidakmauan orang-orang seperti Indira Restiandri lebih memilih streaming dibandingkan membelinya.

“Karena mahal kan. Misal kalau download satu lagu kena Rp. 10.000 nah kalau mau download 10 lagu jadi Rp.100.000 dong. Jadi ya mending streaming,” ujar gadis yang baru mendapat gelar S1 jurusan Desain Komunikasi Visual tersebut.

Senada dengan Indira, Sultan juga lebih memilih streaming saat ditanya lebih pilih mana dibandingkan dengan membeli.

Streaming aja, lebih luas milih lagu dan ga perlu download biar ga menuh-menuhin memori,” terangnya.

Layanan streaming musik nampaknya jalan terbaik untuk saat ini, baik bagi penikmat musik, maupun para musisi. Konsumen dapat menikmati musik secara legal dan para musisi mendapatkan royalti dari penyedia layanan. Namun, kejelasan hukum tentang hak cipta terhadap musik tentunya masih menjadi hal yang harus dibahas secara serius di Indonesia. (AS/JPL/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar