Arip Senjaya: Pemimpin Jurusan Juga Sastrawan - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Arip Senjaya: Pemimpin Jurusan Juga Sastrawan

Reporter : Andhika Firman Agung
Redaktur : Hani Maulia


(Arip Senjaya ketika mengunjungi Palais des Sports- Dôme de Paris). (Dok. Pribadi)
 
Ketika teman-temannya sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) memilih untuk mengikuti kelas keterampilan melukis atau menari, Arip Senjaya memilih untuk mengikuti kursus mesin ketik buta. Terlahir dari Ibu yang merupakan guru bahasa, sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi penulis. Prestasi pertama dalam bidang menulis ia raih ketika dirinya duduk di bangku SMP. Artikel yang ia tulis mengenai gerhana bulan dimuat di Pikiran Rakyat yaitu surat kabar yang diterbitkan di Bandung. Tidak berhenti di situ, cerpen berbahasa sunda yang Arip tulis ketika SMA juga sempat dimuat di  Galura Sunda.

“Nah ini yang menarik, ternyata koran Galura Sunda itu menyebar ke desa-desa. Setelah tulisan saya dimuat, banyak surat dari pembaca yang datang ke sekolah saya. Wah itu suatu kebanggaan, jadi terkenal saya karena banyak penggemar, ” ceritanya pada Minggu (25/3).

Prestasi yang sampai saat ini ia banggakan adalah ketika dirinya mendapatkan juara pertama lomba membaca puisi karangan W.S. Rendra di tahun 2000. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai sarjana Pendidikan dan Sastra Indonesia, pada tahun 2008 ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Gadjah Mada mengambil jurusan Filsafat. Alasannya berbelok dari Sastra Indonesia karena ia melihat Indonesia akan gelisah dengan pemikiran-pemikiran, seperti pencarian identitas, Pancasila, atau bahkan agama. Karena itu ia memilih filsafat sebagai pendidikan lanjutannya. 

Dosen sekaligus Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa  Indonesia (PBI) di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini mengaku sejak sekolah dasar sudah mencintai sastra khususnya puisi. Menurutnya sastra yang paling serius adalah puisi. Kumpulan puisi berjudul Seperti Bukan Cinta adalah salah satu karya yang membuat dirinya cukup puas. Buku keluaran tahun 2016 tersebut, berisikan puisi-puisi karangan Arip dan sengaja tahun pembuatannya ia hilangkan. 

“Tahunnya Saya buang, agar pembaca tidak menelusuri historisnya, biar puisi berdiri sebagi teks yang tanpa tahun,” tambah Arip. 

Karya lain seperti Roti Semiotik yang Memadai, Eliav, Carême, Mencari Warna, Patung Kaki Kanan adalah sebagian judul dari karya-karya Arip Senjaya yang wajib dinikmati oleh penikmat sastra di Indonesia. Selain dalam hal menulis, kepiawaiannya dalam  memimpin sebuah lembaga juga patut diacungi jempol. Ketika ia menjabat sebagai Ketua Jurusan PBI Untirta, pada tahun 2017 ia mampu membawa PBI mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang pada tahun sebelumnya hanya mendapatkan akreditasi C. 

Ketika ditanya apa strategi yang ia buat, ia mengaku strategi kepemimpinan adalah hal yang paling penting. Selain itu ia menangani jurusan yang ia pimpin dengan perasaan, ilmu, serta doa. “Saya tiap ke kampus itu baca Al-Fatihah sebanyak-banyaknya, tidak pernah saya hitung. Jangan lupa shalat berjamaah. Selain itu juga membina diri,” tuturnya. 

Di kampus Arip Senjaya dikenal sebagi dosen yang tegas namun sangat dekat dengan mahasiswa. Ia sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan PBI, Unit Kegiatan Mahasiswa, atau Teater Kampus. 

Saat ini Arip sedang disibukkan dengan sertifikasi dirinya untuk menjadi asesor penulis penerbitan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Asesor sendiri bertugas menilai penulis dan editor tingkat nasional. 

Selain keluarga, dosen-dosennya sewaktu menjadi mahasiswa di UPI Bandung merupakan orang-orang yang cukup berjasa dalam perkembangan karirnya. Kedepannya ia mengaku ingin mematangkan diri dengan mengambil pendidikan S3 Filsafat. Selain itu Arip ingin tetap terobsesi pada menulis, membaca, serta urusan-urusan lain yang ia sukai. (AFA/HNI/NEWSROOM)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar