Asal Muasal Bahasa Ibu Banten dan Perkembangannya - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Asal Muasal Bahasa Ibu Banten dan Perkembangannya

Reporter : Arif Ardiansyah
Redaktur : Mulyani Pratiwi



SERANG-Dunia telah memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang telah disahkan oleh UNESCO (21/2). Peringatan Hari Bahasa Ibu sendiri merupakan kisah sejarah dari perjuangan bangsa Bangladesh dalam usaha memperjuangkan Bahasa Bangla. Bahasa ibu ini patut untuk diperingati oleh seluruh Dunia, supaya setiap insan tidak melupakan bahasa daerahnyasebagai ciri khas dan identitas dari tiap daerah.
Di Banten sendiri, terdapat beberapa bahasa daerah yang digunakan. Ada Jawa Serang dan ada juga Sunda Banten. Munculnya bahasa daerah ini juga berawal dari masa berdirinya berbagai kerajaankesultanan yang pernah ada di Banten pada abad ke-16. Bahasa daerah Banten sendiri dipengaruhi oleh kerajaan Demak dan Cirebon yang sempat berada di Banten. Bahasa daerah ini juga dulunya menjadi bahasa utama pada masa Kesultanan yang ada di Keraton Surosowan.

“Khusus di wilayah Banten utara (jawa serang) dan selatan (sunda). Jawa serang disebut sebagai percampuran bahasa jawa dan sunda dari cirebon, setelah kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Banten pertama yakni Maulana Hasanudin. Sementara di bagian selatan menggunakan bahasa sunda yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, Pasundan” tutur seorang dosen muda dalam mata kuliah Studi Kebantenan di Untirta, Faisal Tomi Saputra.

Menurut Bang Tomi bahasa daerah itu jadi salah satu identitas daerah, jika hilang maka identitas daerah itu juga hilang, sehingga penting untuk menjaga identitas daerah itu dengan melestarikan bahasa aslinya

Namun pada zaman sekarang ini, bahasa daerah Banten sendiri seperti terlupakan. Hampir jarang sekali kita temui anak-anak generasi muda yang masih menggunakan bahasa daerah Banten seperti Jawa Serang dan Bahasa Sunda dalam kehidupan mereka sehari-hari

“Banyak faktor yang menyebabkan bahasa daerah semakin terpinggirkan. Salah satunya terpaan modernisasi dan media yang saat ini tidak terkendali sehingga pelan-pelan kultur lokal termasuk bahasa semakin tergerus oleh budaya baru yang muncul.” Ujar dosen muda dengan sapaan akrab, bang Tomi.

Salah seorang pemuda asal Lebak Banten bernama Aziz Baharsyah, sampai sekarang masih mempertahankan bahasa daerahnya yaitu bahasa Sunda Banten.Saat dijumpai, Aziz memaparkan bahwa seharusnya pemuda zaman sekarang tidak perlu malu menggunakan bahasa daerah karena seharusnya para generasi muda bangga.

“Saya sendiri juga berasal dari keluarga yang berbahasa Sunda, jadi saya gak perlu malu. Justru dengan cara ini saya bangga bisa memperkenalkan bahasa daerah saya.” Ujar Aziz.(arf/esw/newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar