Bahasa Daerah yang Berangsur Menghilang - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Bahasa Daerah yang Berangsur Menghilang

Reporter: Rizky Dwi F.



Menggunakan bahasa daerah itu tidak kalah penting dengan menggunakan bahasa indonesia
Sumber foto : google.co.id

SERANG- Indonesia menduduki posisi kedua negara terbanyak yang memiliki bahasa daerah setelah Papua Nugini yaitu sebanyak 707 bahasa daerah yang ada di Indonesia 98 bahasa daerah yang hampir punah (26/02). Di era globalisasi ini kita sudah sangat sulit mendengarkan bahasa – bahasa daerah yang dipakai atau mungking bahasa daerah itu sudah tidak jaman ataupun sudah terkontaminasi oleh bahasa asing.

Sekertaris Jendral IMIKI Untirta Didi Suhaedi (20) menjelaskan, masyarakat daerah yang bekerja tidak di daerahnya sendiri atau seperti kota Jakarta mereka jarang sekali menggunakan bahasa daerahnya karena bahasa yang sehari-hari yang mereka gunakan di daerah cenderung tabu atau sudah tidak jaman lagi bagi masyarakat perkotaan.

“Orang-orang daerah itu kalau bekerja dijakarta itu kadang jarang sekali menggunakan bahasa daerahnya, mungkin karena mereka malu karena teman-temanya yang di Jakarta tidak terbiasa menggunakan bahasa daerah, dan juga mereka menganggap sudah tidak jamannya lagi” jelas Didi Suhaedi.

Didi yang juga sebagai wiraswasta di daerahnya menghimau agar masyarakat daerah tidak malu untuk menggunakan bahasa daerah ketika berada di perantauan. “ ya harusnya mereka tidak malu menggunakan bahasa daerah di kota orang toh itu sebagai identitas kita juga kok” tutup Sekjend Imiki Untirta ini.

Banyak perbedaan dialek/ bahasa pada orang yang bekerja di daerahnya sendiri dengan orang yang bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta. Orang yang bekerja dijakarta sedikit demi sedikit bahasa daerahnya akan berangsur hilag atau pun terkontaminasi akan lingkungan sekitar.

Sama halnya dengan Didi, seorang Guru SD dijakarta Dana Helli(56) yang berasal dari Pandeglang menjelaskan, ketika orang bekerja di luar daerahnya dan juga tinggal disana mereka akan terbawa bahasa atau logatnya. “ketika kita bekerja sekaligus tinggal di Jakarta itu dialeknya itu khas banget ya mas diealek betawi atau pun Jakarta, waluapun saya pandeglang berasal dari pandeglang tidak menutup kemungkinan bahasa derah yang bisa saya pakai lama kelamaan akan menghilang” jelasnya.
Guru SD yang sudah 40 tahun bekerja di Jakarta ini menambahkan, penyebab dari banyaknya masyarakat daerah yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah adalah karena factor lingkungan sekitar. “Yang paling utama itu lingkungan dimana seseorang berada, kemudian bahasa yang digunakan di sekitar dia tinggal maupun bekerja. Kalau seandainya ia tinggal di Jakarta dia akan menggunakan dialek/bahasa layaknya orang jakarta otomatis sedikit demi sedikit bahsa yang biasa digunakan di daerah sedikit demi sedikit terkontaminasi ataupun tergerus bahsa daerahnya. Hanya mungkin tekanan-tekanan intonasinya saja yang masih ada” keterangannya.

Dana berharap masyarakat daerah yang bekerja di luar daerahanya ataupun di kota-kota besar harus mau menggunakan bahasa daerahnya dilingkungan sekitar dan dilingkungan kerja ataupun mulai ai ligkungan keluarga.”bahasa daerah itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, maupun lingkungan sekitar dimana dia berada, jika dia mau melestarikan bahasa daerah dan juga agar bahasa daerah itu tidak terkontaminasi. Dan menggunakan bahasa daerah sendiri di daerah orang lain yang seperti saya ini yang sekarang berada di Jakarta ada kebanggan tersendiri” tutupnya.(RDF/ESW/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar