Bahasa Ibu Mesti Terjaga Utuh - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Bahasa Ibu Mesti Terjaga Utuh

Reporter : Aina Aristia Nengrum
Redaktur : Mulyani Pratiwi


SERANG – Bahasa menjadi modal utama dalam menjalankan kehidupan sehari–hari, tak terkecuali bagi bahasa ibu. Sejatinya, Bahasa Ibu memiliki hubungan filosofi yang kuat dengan budaya leluhur. Selain itu, memiliki kemurnian dan ciri khas yang terpancar lewat keunikan bahasanya. Seharusnya, segala jenis Bahasa Ibu dipertahankan untuk menjaga keutuhan budaya Indonesia. Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota dari Laboratorium Bantenologi, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Yadi Ahyadi saat ditemui di Lab. Bantenologi kamis kemarin (23/2).

Banten memiliki budaya yang kental dan mengakar secara turun-temurun. Salah satunya adalah memiliki dua Bahasa Ibu yang masih digunakan sampai saat ini, yaitu Sunda Banten dan Jawa Pesisir. Daerah Ibukota Banten sendiri terletak di Serang, yang mana masih menggunakan Bahasa Jawa Pesisir atau yang lebih dikenal dengan Jawa Serang. “Untuk penggunaan Bahasa Jawa Serang sendiri hanya digunakan di beberapa daerah tertentu, seperti Kota dan Kabupaten Serang, Cilegon, dan sebagian daerah pesisir Utara Kabupaten Tangerang. Sedangkan Bahasa Sunda masih digunakan oleh mayoritas daerah di Banten, karena telah menjadi bahasa yang telah lama dianut oleh masyarakat Banten.” terang Yadi Ahyadi (46).

Meskipun ibukota dari Provinsi Banten memakai Bahasa Jawa Serang dalam aktivitas sehari–hari, tentunya tidak menggeser keberadaan Bahasa Sunda di Banten, seperti yang dikatakan oleh Yadi bahwa sejatinya, Bahasa Sunda adalah bahasa terlama yang sudah hadir sebelum Bahasa Jawa masuk dan mempengaruhi daerah Banten, kemudian menjadi kekuasaan di Kesultanan Banten.

Uniknya, Bahasa Sunda Banten sendiri memiliki perbedaan dengan Bahasa Sunda di daerah Jawa Barat. “Bahasa Sunda Banten, Bahasa Sunda Priangan, dan Bahasa Sunda Cirebon itu berbeda–beda. Namun pada hakikatnya, bahasa itu menunjukkan strata sosial. Penggunaan Bahasa Sunda Banten sendiri menunjukkan kesamaan pada tingkat derajat yang sejajar dengan lawan. Sedangkan, Bahasa Sunda Priangan memiliki banyak kata yang menunjukkan ketidaksejajaran dengan lawan bicaranya”, tambah Yadi.

Bahasa Sunda Banten tentunya juga memiliki ciri khas yang mencerminkan keberagaman di daerah Banten. Perbedaan itu terletak didalam dialek. Sunda itu nada bicaranya bermacam–macam”, ujar salah seorang anggota dari Tim Penelitian Laboratorium Bantenologi, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. Ayatullah Humaeni (40). Terlepas dari hal itu, perkembangan Bahasa Sunda sendiri masih tetap dipertahankan. “Kalau dari segi kuantitas, pengguna Bahasa Sunda menurun dikarenakan adanya pengaruh bahasa asing, kurangnya pengenalan bahasa ibu sedari kecil, namun dari segi kualitas penggunaan Bahasa Sunda masih sama seperti dahulu”, tambah Ayatullah.

Kondisi globalisasi saat ini menjadi penghambat kelestarian dari Bahasa Sunda yang menjadi salah satu Bahasa Ibu di Banten. “Sebagian kota yang berada di Banten sudah menjadi kota metropolitan, sehingga jarang ditemukan pribumi yang menggunakan Bahasa Sunda, ditambah lagi dengan adanya kemajuan teknologi dan belum semua orang paham akan Bahasa Sunda”, ucap seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta, yang masih menggunakan Bahasa Sunda, Muhammad Rizal Falaq Islah (20).

Namun, segala kebudayaan yang ada di Indonesia, seharusnya didukung oleh generasi muda yang menjadi penentu keberlangsungan budaya. “Saya tidak berasumsi bahwa orang yang masih menggunakan bahasa daerah adalah orang yang kuno atau orang yang ketinggalan zaman. Tentunya dari bahasa tersebut menunjukkan identitas dari diri Saya sendiri untuk lebih dekat dengan sanak keluarga besar”, lanjut Rizal Falaq.

Bahasa Sunda Banten dan Bahasa Jawa Serang merupakan Bahasa Ibu yang masih digunakan sampai saat ini bagi segelintir masyarakat Banten. Dalam perkembangannya pun kedua bahasa tersebut, memiliki keunikan masing–masing yang menjadi ciri khas dari setiap daerahnya. Keberlangsungan Bahasa Ibu sendiri, tentunya menjadi hal penting bagi generasi muda untuk tetap melestarikan Bahasa Ibu di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa Ibu adalah bahasa kalbu yang harus dijaga utuh. (ana/esw/newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar