Bahasa Ibu? Pentingkah Untuk Mahasiswa? - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Bahasa Ibu? Pentingkah Untuk Mahasiswa?

Reporter : Gea Yustika
Redaktur : Ulvia Fitra Aini





 (Gambar mengenai penggunaan bahasa ibu. Credit : google)

Serang– Pada tanggal 21 Februari kemarin, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa pada hari itu diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Bahasa ibu itu sendiri adalah bahasa daerah asal kita atau bahasa yang khas dari suatu daerah. Misalnya, kita berkuliah di Provinsi Banten khususnya daerah Serang, maka bahasa ibu yang dikenal disini adalah Bahasa Sunda atau bahasa Jawa Serang (Jaseng). (23/2)

Apakah penggunaan bahasa ibu masih penting di bangku perkuliahan? Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menjawab hal itu dengan salah satu mata kuliahnya yaitu Mata Kuliah Studi Kebantenan. Faisal Tomi Saputra atau yang biasa dikenal Tomi, selaku dosen Mata Kuliah Studi Kebantenan mengatakan bahwa belajar budaya daerah khusunya bahasa kita sendiri itu penting, karena itu menjadi salah satu potensi yang harus dipertahankan. Karena ketika bahasa lokal itu hilang, kemungkinan kita hanya akan bergantung terhadap satu bahasa, dan bahasa itu menjadi identitas daerah tersebut.

“Tapi yang utama adalah mau gak mau kita harus melestarikan bahasanya itu sendiri. walau kita bukan orang asli daerah tersebut. justru itu kebanggaannya,kata Tomi.

Tomi pun memaparkan fungsi lain menggunakan bahasa daerah yaitu akan muncul rasa kedekatan dan timbul saling menghargai serta rasa toleransi datang dengan sendirinya.
Masih malu-malu. Karena mediumnya tidak dibangun atau infrastruktur. Misalnya, kaya di radio atau di televisi ada program. Padahal itu menarik. Tapi sekarang alhamdulillah udah mulai digerakin termasuk dengan mata kuliah ini,” lanjut Tomi ketika ditanya mengenai mahasiswa/i yang menggunakan bahasa daerah.

Kembali kebahasan sebelumnya mengenai Hari Bahasa Ibu, ada orang yang sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Seperti Lilla Annola mahasiswi Fakultas Hukum 2016 ketika di tanya mengenai hari tersebut.

Bahasa daerah Banten ya? Menurut saya lebih cenderung ke bahasa Sunda kasar gitu karena dulu sebelum jadi provinsi Banten kan masuknya provinsi Jawa Barat kan?” jawab Lilla.
Meskipun demikian, Lilla berharap semoga bahasa daerah setempat bisa terus ada dan tidak terkontaminasi dengan bahasa yang tidak pantas kemudian merusak bahasa daerah tersebut, sehingga bahasa daerah itu sendiri bisa dilestarikan dan diterima oleh semua masyarakat.(GY/ULV/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar