Bahasa Ibu, Tanaman Moral Pertama - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Bahasa Ibu, Tanaman Moral Pertama

Reporter : Hemaswari Tantia
Redaktur : Mulyani Pratiwi


(Sumber : www.kabar-banten.com)
(Kata-kata yang disampaikan oleh Rambo Serang salah seorang pengisi suara dalam video pendek)


SERANG – “Dari sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau.Merupakan sedikit kutipan dari salah satu lagu nasional. Dari kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya. Baik dari segi adat istiadat, bahasa, maupun ragam dialek juga mempengaruhi keanekaragaman bahasa ibu di Indonesia.

Ibu kota Provinsi Banten, memiliki bahasa yang biasa dikenal dengan sebutan bebasan Jawa Serang (Jaseng), asal usulnya dari bahasa Jawa Kawi. Di tengah masyarakat yang mulai meninggalkannya, segelintir dari masyarakat Serang masih ada yang tetap melestarikan bebasan Jaseng ini, salah satunya di daerah Pulo Panjang, Taktakan, Serang..

Para orangtua mendidik anaknya dengan menggunakan bahasa daerah untuk kehidupan sehari-hari, walaupun mereka juga mengajarkan bahasa nasional. Sebagian orangtua pun setuju terhadap pengetahuan bahasa daerah yang diajarkan sejak dini, hal ini diungkapkan oleh salah seorang warga, semua itu berawal dari orangtua dulu. Anak juga nantinya akan belajar bahasa dari apa yang mereka dengarkan sehari-harinya, jadi anak niru dan dari situ akan mulai gampang untuk berkomunikasi.” tutur seorang ibu rumah tangga, Yanti (51).

Namun sayangnya, tidak sedikit pula anak muda yang terkesan malu, untuk menunjukkan identitas mereka dengan menggunakan bahasa khas daerahnya sendiri.

“Bahasa itu kan sangat penting, apalagi bahasa ibu. Kenapa? Karna bahasa daerah itu akan mengetahui karakter kepribadian seseorang dengan intonasi bahasa ibunya. Kalo pengguna bahasa Indonesia dari sejak kecil, itu intonasinyanya akan datar. Makanya bahasa ibu itu dijadikan untuk penanaman moral pertama terhadap anak.” Ujar budayawan dan pengurus Bantenologi, yang akrab disapa Abah Yadi.

Ayo, biasakan menggunakan bahasa Jawa Serang dalam berkomunikasi dengan sesama teman dan keluarga di rumah. Setidaknya dengan langkah kecil ini, kita turut serta dalam melestarikan bahasa ibu yang ada di Banten. Jika bukan kita yang melakukannya, lalu siapa lagi? (Tia//esw/newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar