Bahasa Ibu, Tetap Lestarikan Walau Jauh dari Kampung Halaman - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Bahasa Ibu, Tetap Lestarikan Walau Jauh dari Kampung Halaman

Reporter : Ihram Rizki Setiawan
Redaktur : Agnes Yusuf


Hari Bahasa Ibu International diperingati setiap tahunnya pada tanggal 21 Februari. Dinyatakan secara resmi pada tanggal 17 November 1999 oleh UNESCO sebagai bentuk pengakuan terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan lebih dahulu di Bangladesh. (Foto: TribunWOW.com)




Bahasa Ibu adalah bahasa yang pertama kali diajarkan kepada seseorang, seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya berbahasa. Bahasa Ibu diperingati secara internasional yaitu Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 17 November 1999.

Inti dari bahasa Ibu adalah bagaimana mengajarkan atau menurunkan tata bahasa daerah asal sang ibu kepada anaknya. Misalkan ada seorang Ibu yang berasal dari Jawa Barat otomatis sang ibu akan menguasai bahasa Sunda, nah bahasa Sunda ini lah yang akan diajarkan atau diturunkan kepada anaknya.

Tentu dengan hal tersebut akan menimbulkan keberagaman budaya dalam berbahasa dan kehidupan sehari-hari. Keberagaman ini lah yang akan menambah nilai indah perbedaan. Seperti keragaman penggunaan bahasa yang ada di Kampus Universitas Sultang Ageng Tirtayasa (Untirta). Kampus yang terletak di Provinsi Banten ini memiliki beragam mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Mahasiswa di Untirta banyak yang berasal dari Sumatera hingga Papua, tentu dengan perbedaan bahasa yang dibawa setiap mahasiswa dari daerah asalnya akan menjadikan Untirta memiliki ragam bahasa. Namun apakah hal tersebut akan menjadi tantangan bagi mereka yang sudah jelas bahwa penggunaan bahasa di Provinsi Banten berbeda dengan daerah asal mereka.

Perbedaan penggunaan Bahasa tentu akan membuat mereka mengurangi penggunaan Bahasa Ibu nya, hanya menggunakan Bahasa Ibu ketika bertemu dengan teman yang berasal dari daerah yang sama atau bahkan tidak akan menggunakan bahasa Ibu nya di perantauan.

Adam Paula, Sarjana Ilmu Komunikasi Untirta yang berasal dari kota Padang merantau sejak 2013. Namun ia tidak sendiri yang menjadi mahasiswa asal kota Padang, melainkan cukup banyak juga temannya yang sama-sama berasal dari kota Padang.

Jika dihubungkan dengan adanya perayaan Hari Bahasa Ibu, Adam dan juga beberapa temannya yang berasal dari kota Padang mengatakan bahwa walaupun ia sedang merantau, ia tetap menggunakan bahasa Minang ketika sedang berkumpul dengan teman satu perantauannya

“Kalau di kampus mayoritas mahasiswa yang asli Padang kemudian bertemu dengan orang Padang juga pasti berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Minang. Setiap orang Minang yang berkuliah di sini yang asli Minang atau keturunan pun sama sih pakai bahasa Minang. Kecuali emang dia enggak lancar, kalau enggak lancar biasanya kita barengin antara bahasa Minang dengan bahasa Indonesia.” kata Adam Paula.

Memang menjadi hal yang cukup sulit ketika seorang yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengan daerah asalnya. Berkumpul dengan teman satu daerah asal menjadi salah satu cara untuk tetap menggunakan dan berkomunikasi dengan bahasa Ibu ini. Entah itu hanya untuk sekedar membicarakan hal-hal seputar kampus sampai hal-hal yang yang berkaitan dengan kampung halaman.

Kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus Untirta yang memiliki banyak sekali latar belakang bahasa mahasiswa yang berbeda-beda tentu akan sangat dibutuhkan. Seperti Adam misalkan, ia mengaku bahwa tidak kesulitan ketika harus tinggal di lingkungan sekitar kampus Untirta karena mayoritas mahasiswa asli Serang menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan kuliah sehari-hari. Selain itu Adam juga mengatakan bahwa lebih sering menemukan mahasiswa yang menggunakan bahasa Sunda dan kebetulan untuk bahasa Sunda ia mengerti artinya walaupun sedikit.

Kemudian dalam penggunaan bahasa yang berbeda dapat menimbulkan goncangan budaya atau Culture Shock, dalam kejadian ini Tomi Saputra selaku dosen pengampu mata kuliah Studi Kebantenan mengatakan bahwa ia kadang menemukan culture shock ketika sedang mengajar di kelas.

Untuk itu kemudian setiap mahasiswa Untirta yang berasal dari luar daerah Banten harus mampu untuk menyesuaikan dengan lingkungan barunya, tetapi tidak juga untuk tidak lagi menggunakan bahasa Ibu nya atau bahkan melupakan. Sudah menjadi sebuah keharusan bagi generasi muda untuk tetap melestarikan nilai-nilai budaya seperti Bahasa, Kesenian, dan lain-lain. Indonesia adalah negara yang amat kaya akan budaya nya dan bahasa Ibu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat Indonesia beragam, sudah sepatutnya keragaman ini tetap dijaga dan dilestarikan. (IRS/AY/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar