“Beatbox” Musik Tanpa Alat yang Selalu Menemani - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 19 Maret 2018

“Beatbox” Musik Tanpa Alat yang Selalu Menemani

Reporter : Stephanus
Redaktur : Hani Maulia





Esa (kiri) berswafoto dengan idolanya Ego Firnando (kanan)
pada event Warewolf Beatbox Championship di Tangcity Mall. (Dok. Pribadi)

Achmad Purba Nursaen atau  biasa dikenal dengan pangilan Esa ‘Beatbox’ ini menganggap beatbox adalah sebagian dari hidupnya. “Pokoknya disaat apapun beatbox selalu menemani gua,” ujarnya. Beatbox sendiri merupakan suatu bentuk seni yang memfokuskan diri untuk menghasilkan bunyi-bunyi ritmis melalui alat ucap manusia seperti mulut, lidah, bibir dan rongga ucap lainnya.

Pria yang sebentar lagi berumur 20 tahun ini tepatnya pada 21 maret nanti, telah menekuni beatbox kurang lebih selama enam tahun, ketertarikannya dimulai saat ia duduk di bangku SMP sewaktu ia menonton siaran televisi yang tengah menampilkan komunitas Jakarta Beatbox. Sejak itulah ia mulai mempelajari cara-cara ber-beatbox melaui internet.Kalau ditanya sebera sering latihan beatbox sih setiap hari men.. Setiap ada kesempatan gue bisa beatbox ya pasti gue beatbox,” ungkapnya mengekspresikan kecintaannya pada beatbox. Hingga sekarang pria yang tergabung dalam komunitas Tigaraksa Beatbox ini masih giat untuk mempelajari dan mengulik teknik-teknik baru untuk menghasilkan efek suara yang khas dan unik.

Menekuni apa yang ia sukai membuatnya senang juga untuk mengikuti perkembangan beatbox yang bisa dibilang cepat. Video-video terbaru di internet ia unduh untuk bahan ajarnya. Internet menjadi medianya belajar. Tak hanya itu untuk menambah wawasannya pria yang berdomisili di Tangerang ini sangat gemar untuk sharing-sharing bersama beatboxer lain di media sosial yang ia punya.

Pengalaman pertamanya naik di atas panggung adalah saat acara Pentas Seni SMA 6 Kab. Tangerang pada tahun 2015 yang juga merupakan sekolahnya Setelah itu ia mulai wara-wiri untuk mencoba tampil di panggung lain, beberapa yang berkesan dan ia ingat antara lain saat showcase di acara ulang tahun komunitas Tangerang Beatbox (TGB) di Taman Prestasi 2015 silam, lalu Beatbox Battle yang diadakan di Maze Market (2016), HUT TGB 2016 di café Dixy tangerang, serta Serang Beatbox Batlle (2016) dan menempati posisi ketiga. Ia yang tengah berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) juga kerap diminta untuk mengisi acara-acara yang terselenggra di kampus.

“Sebenernya gue bisa beatbox aja itu udah bersyukur banget, gue bisa menikmati dan melakukan itu setiap hari buat menghibur diri gue sendiri,” ucapnya. Namun ada juga sedikit keinginannya untuk bisa ikut ajang battle international dan pulang dengan membawa piala untuk membuat bangga Indonesia dengan beatboxnya. Seperti halnya beatboxer yang menginspirasi dirinya yaitu Ego Firnando, beatboxer yang sama-sama dari Tangerang yang berhasil menjuarai Java Beatbox yang merupakan ajang nasional se-Indonesia dan juga ia beatboxer Indonesia pertama yang tampil di luar negeri di ajang bergengsi berkelas International Beatbox Royale di Singapura dan berhasil menyabet juara 2 pada 2016 lalu. Membuat bangga Indonesia dengan beatboxnya adalah sebuah impian kecil dari Esa saat ini. (STE/HNI/Newsroom).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar