CD Bajakan Masih Beredar di Pasaran - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

CD Bajakan Masih Beredar di Pasaran

Reporter : Riri Alya H.





Masih ada orang yang memanfaatkan CD bajakan untuk diperjual belikan. CD bajakan menguntungkan bagi penjual dan merugikan bagi pemilik karya dan Negara (foto:blogspot.com)

Serang (11/3) Pembajakan karya musik saat ini masih merajarela dipasaran.  Terutama pembajakan music dalam bentuk fisik yang masih saja ada dipasarkan dengan harga yang sangat begitu murah.Pembajakan CD musik ini adalah salah satu perilaku perampasan hak oranglain. Seperti yang dikatakan Akhmadi salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis pembajakan itu merupakan sama seperti memerkosa hak orang lain. “yang namanya pembajakan kan memperkosa hak orang lain. Kalau saya pencipta lagu misalnya ya hasil karya ini mungkin diciptakan tidak gampang mungkin bisa berhari-hari menguras banyak tenaga dan pikiran untuk dihasilkan dan hasilnya diambil orang. Kan namanya dibajak itu hasil karya orang sama saja di komersilkan untuk kepentingan yang membajaknya sedangkan pemiliknya tidak mendapat royalty kan seharusnya yang pemilik lagu menghasilkan royalty” Ucap Akhmadi (9/3)

Alasan pedagang-pedagang nakal yang menjual CD musik bajakan itu adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun berbeda dengan Luki seorang pedagang CD musik bajakan di Pasar Rangkasbitung. “ saya pengen jualan aja gitu. Pengen usaha sendiri. Tidak mau dipekerjakan oleh orang lain. Kan kalau kerja sama orang lain tuh gimana gitu. Intinya sih pengen bebas aja.” Ungkap Luki (10/3)

Luki mengaku mendapatkan barang tersebut ia belanja sendiri di Pasar Glodok. Harga yang CD yang ia jual beragam dari harga 10.000 sampai 35.000. Ia mengaku keuntungan yang ia dapatkan perhari tidak menentu.

Pembajakan musik ini benar-benar menimbulkan banyak kerugian. “Jadi si pembajak itu pertama merugikan yang membuat lagu dan yang kedua merugikan Negara. Karena PPN dari penjualan itu tidak akan masuk. Jadi pembajakan itu merupakan mencuri hak orang lain dan mencuri hak cipta dan itu  melanggar hukum.” Ungkap Akhmadi. 

Jika Dikutip dari kompasiana.com menurut Menteri Perdagangan Indonesia Gita Wirjawan, potensi kerugian industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai Rp 4,5 triliun per tahun. Padahal, jika nilai konsumsi musik per orang sebesar Rp 20.000 per tahun, nilai potensi konsumsi musik mencapai Rp 5 triliun per tahun. 

Pembajakan tersebut masih ada dipasaran karena seorang pembajak masih berani dan tindakan dari pemerintah belum membuat jera bagi pembajak.
(RAH/SLV/Newsroom)

*)Tulisan ini tidak melalui proses pengeditan oleh redaktur, karena terlambat mengumpulkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar