Cita-cita Seorang Presiden Mahasiswa Untirta - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 19 Maret 2018

Cita-cita Seorang Presiden Mahasiswa Untirta

Reporter : Abdul Ghani Tawadhi
Redaktur : Hani Maulia




(Diatas langit masih ada langit)

Pada hari Jumat (16/3/2018) sekitar pukul 15.30 WIB, saya menuju ke Teater Terbuka yang bertempat di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Bermaksud untuk bertemu dengan seorang laki-laki yang memiliki jabatan paling teratas di kalangan mahasiswa Untirta. Dia adalah Muhammad Fadli dari jurusan Pendidikan Biologi yang memiliki cita - cita sebagai seorang pemimpin yang berusia 21 tahun yang berhasil saya temui pada saat itu. Dia adalah Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta 2018.
Menjadi seorang pemimpin memang sudah dilakoninya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah pertama sebagai Ketua Murid. Hingga menjadi seorang mahasiswa di Untirta tak sedikit ia pernah menjabat sebagai pimpinan di beberapa organisasi mahasiswa. Misalnya saja pada tahun 2014 mengikuti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi sebagai anggota, 2016 terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) LSIP, kemudian tahun 2017 sebagai Direktur Lingkar Studi Pekanan (LSP) Untirta, dan selanjutnya tahun 2018 terpilih sebagai Presma Untirta. Laki-Laki itu kelahiran 1996, dia bercerita tentang perjalanan hidupnya saat menginjak awal masuk perkuliahan di kampus Untirta.
“Jadi, pada saat awal masuk perkuliahan memang saya mengikuti beberapa Latihan Kepemimpinan (LK) yang dimana itu mencari jati diri sebagai seorang pemimpin dan saya mempelajari dari seorang senior yang saya kenal adalah mantan Presma Untirta yang bernama Fahmi yang sangat saya kagumi untuk menjadi seorang pemimpin,” katanya bercerita.
Menurutnya, untuk menjadi seorang pemimpin sangatlah tidak mudah karena ada beberapa tahapan yang harus dipahami seperti membangun mentalitas (berkelakuan baik), percaya diri, dan berkualitas. Seorang pemimpin itu patut diteladani dan dicontoh serta pemimpin dituntut untuk berpandangan luas artinya pengetahuan dan pemahaman yang luas. Menjadi seorang pemimpin harus siap siaga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan untuk menjadi penyambung lidah masyarakat atau mahasiswa.
Ragu dalam menjalani jabatannya sebagai pemimpin tentu tak lepas dari Fadli, namun keyakinan dan tekad lebih kuat hingga ia berhasil menempuh rintangan – rintangan yang dialami sebelum menjadi Presma. “Ketika saya dicalonkan sebagai Presma 2018, saya mendapat dorongan dari organisasi yang saya ikuti saat ini, melihat dari kualitas saya aktif dalam organisasinya, melihat dari kapasitas pehaman yang luas, dan hal yang terpenting dalam kemampuan berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiwa. Melihat hasil kinerja saya selama di organisasi yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), saya berhasil dicalonkan sebagai Presma 2018,” ujuarnya.
Saat sekarang dia menginjak semester 8 dan telah menjadi Presma Untirta 2018, akademik perkuliahan tak dtinggalkannya karena itu sebagai kewajiban sebagai mahasiswa dan salah satu rintangan dalam manajemen waktu untuknya. Selama 3 bulan dia menjalani menjadi Presma Untirta, dia terus belajar tentang kepemimpinan terkait politik atau hukum agar menjadi seorang pemimpin yang benar, tidak terlupakan untuk belajar biologi sesuai jurusannya, dan berpikir kedepan sebagai seorang pemimpin untuk mahasiswa.
Dengan adanya kesempatan ini, dia berharap kepada mahasiswa-mahasiswa Untirta untuk belajar lebih banya, membaca buku, mencari pengalam di unit kegiatan mahasiswa untuk membuka pola pikir. (AGT/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar