Ekonomi itu Hak Wanita, bukan Kewajiban Wanita - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Ekonomi itu Hak Wanita, bukan Kewajiban Wanita

Reporter : Dwika Putri Agustine
Redaktur : Selvi Mayasari




Wanita bisa mencari jati dirinya dan mengembangkan bakatnya lewat pekerjaannya. Namun bukan kewajibannya menanggung beban ekonomi. (04/03) Sumber: (google.co.id)
SERANG – Di zaman sekarang, sudah bukan hal yang tabu jika wanita pun memiliki karir yang cemerlang. Alasan seperti “daripada diam saja dirumah, lebih baik kerja diluar rumah”, “lumayan uangnya bisa buat shopping”, “aku sebagai wanita pun berhak menggapai cita-cita”, dan sabagainya yang mendasari mereka memilih untuk menjadi wanita karir.
Pada dasarnya, bukanlah kewajiban wanita mencari uang dan menjadi tulang punggung keluarga. Namun tidak salah jika mereka memilih bekerja dan berprestasi di bidangnya. Seperti Nani Agustin, wanita 44 tahun ini memiliki prestasi kerja yang cukup cemerlang. Sejak tahun 1993, Nani sudah memulai karirnya dengan berbagai macam pekerjaan mulai dari penyiar radio, sekretaris kantoran, bekerja di kantor pajak dan sekarang berprofesi menjadi consultan accounting yang menjabat sebagai Area Manager Jiwasraya cabang Serang.
“Saya bekerja karena diberi kesempatan oleh suami keluar rumah untuk bersosialisasi, bukan untuk mencari nafkah,” ujar Nani. Minggu (04/03).
Nani mengaku di tempat ia bekerja saat ini, ia mampu mendapatkan komisi kurang lebih Rp. 15.000.000 dan belum ditambahkan lagi dengan tunjangan manajer, reward yang diberikan jika ia mencapai target dan sebagainya. Waktu kerja yang fleksibel, tidak membuatnya lupa akan kewajibannya menjadi seorang istri dan ibu dari dua orang anak. Ia bisa mengatur jam kerjanya agar tidak mengganggu waktu bersama keluarganya.
Dari pendapatannya, tidak ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nani juga sangat jarang memisahkan secara khusus untuk kebutuhan sekunder atau tersier pribadinya. Ia lebih memilih untuk mendepositkan pendapatannya yang bisa ia gunakan di masa mendatang. Seperti biaya pendidikan anak, investasi dan lainnya.
Berbeda dengan Nani yang memiliki jam kerja yang fleksibel, Shinta Dhamayanti yang menjabat sebagai Kasi Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Serang memiliki waktu kerja yang tetap dari hari Senin sampai Jumat.
“Alhamdulillah, selama ini bisa membagi waktu untuk keluarga dari sore hingga malam juga full time di waktu weekend. Intinya, pekerjaan tidak mengganggu waktu bersama keluarga.” jelas Shinta.
Wanita dengan empat orang anak ini mengaku 30% gajinya ia alokasikan khusus untuk kebutuhan pribadi. Sisanya ia gunakan untuk menabung, membelikan keinginan anak, dan sesekali juga membantu untuk membiayai kebutuhan keluarga. Make up, baju, kerudung adalah yang dijadikannya alasan untuk memisahkan baya secara khusus dari pendapatannya.
“Ya wanita bekerja itu ada yang ingin mengabdi untuk negara, ada yang karena ingin punya uang sendiri kan. Kalau saya memilih bekerja untuk mengapresiasikan pelajaran-pelajaran yang pernah diambil di waktu sekolah dan kuliah, juga ingin membuktikan kalau perempuan juga bisa tidak bergantung dengan suami untuk kebutuhan pribadi.” ujarnya.
Dilansir dari CNNIndonesia.com, Pertumbuhan sebesar 16 persen dari tahun 2015 menempatkan Indonesia masuk dalam 10 besar negara di dunia untuk jumlah perempuan di posisi manajemen senior perusahaan.
Seperti yang dijelaskan oleh Elvin Bastian, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untirta, wanita pun ingin membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal yang sama dengan laki-laki di bidang ekonomi, dalam hal ini adalah bekerja. Namun bukan ranahnya wanita menyelesaikan masalah ekonomi keluarga.
“Bekerja itu kesempatan bagi wanita untuk berkembang bukan untuk mencari pendapatan bagi keluarganya, dengan catatan kewajiban ia sebagai istri dan ibu tidak terganggu”, Ujar Elvin. (DWK/SLV/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar