Jangan Takut untuk Mengatakan Tidak - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Jangan Takut untuk Mengatakan Tidak

Reporter : Hemaswari Tantia
Redaktur : Mulyani Pratiwi


(Stop Pelecehan Seksual – Ilustrasi Pelecehan Seksual oleh kumparan.com)

SERANGTanggal delapan Maret, telah ditetapkan oleh United Nations sebagai “International Women’s Dayyang di latar belakangi guna merayakan pencapaian perempuan secara internasional dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Sayangnya, pencapaian itu belum sepenuhnya tercapai. Perempuan sering dianggap sebagai kaum yang lemah, juga kerap menjadi korban pelecehan seksual di ruang publik, seperti angkutan umum. Aksi amoral ini bahkan sering terjadi kala jam sibuk seperti saat berangkat kerja atau pulang kerja, dimana penumpang kerap berdesakan di dalam angkutan umum tertentu.
Pelecehan seksual tidak selalu tentang pemerkosaan, pelecehan seksual juga bisa merujuk pada tindakan seperti siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa di rendahkan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.
Senin (26/02) salah seorang mahasiswa Untirta, Lutfiah (19) mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di bus Murni jurusan Labuan–Kalideres menuju ke Serang. Kala itu bis sedang ramai, membuat para penumpang harus berdesakan dengan perempuan lainnya. Diduga hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh segelintir oknum tak bertanggungjawab.
 “Saya posisinya duduk, karna sempit jadi kan pada desek-desekan gitu, terus ada bapak-bapak disebelah saya, dia posisinya beridiri, dan bagian bawah tubuhnya itu kena pundak saya, dan saya mau bilang bahwa itu termasuk pelecehan takut salah juga” tutur Lutfiah.
Menurut salah seorang dosen Ikom Untirta, Uliviana Restu menyatakan bahwa banyak perempuan yang tidak merasa bahwa dirinya sedang tidak dilecehkan atau sebaliknya, banyak perempuan yang merasa bahwa dirinya sedang dilecehkan padahal itu bukan tindak pelecehan.
Jadi, yang harus dipahami adalah istilah pelecehan itu mengarah pada perilaku yang bagaimana.” Tambahnya.
Alasan mengapa orang melecehkan secara seksual yang pertama, ada kesempatan dan kedua karena memang dia (si pelaku) memiliki hasrat itu. Jadi, sepanjang orang itu hidup, orang itu bisa berfikir dan berimajinasi, hasrat itu akan ada. Hal ini juga disampaikan oleh bu Uliv.
Selaku mahasiswi yang sering menaiki angkutan umum, Irna Lestari (19), juga mengatakan bahwa untuk semua perempuan atau seluruh penumpang angkutan umum harus lebih ditingkatkan lagi kewaspadaannya, jangan mudah lengah, dan selalu berhati-hati dimanapun dan kapanpun.
Pelanggaran seksual berat seperti menyentuh, merasakan, meraih secara paksa, atau penyerangan seksual termasuk ke dalam pelanggaran seksual. Menurut pasal percabulan (Pasal 289 s.d. Pasal 296 KUHP). “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.” Dan dengan terdapat bukti-bukti yang dirasa cukup. Tetapi, di Indonesia hukum pelecehan seksual nampak belum ditegakkan dengan sempurna.
Kesalahan utama yang sering muncul ketika pelecehan seksual terjadi adalah pemikiran bahwa korban merupakan pihak yang paling bersalah. Singkirkan jauh-jauh pikiran “saya salah” dari benakmu. Sebab siapapun tak seharusnya melakukan perbuatan seksual terhadapmu. Sekali pelaku melecehkanmu secara seksual, upayakan langsung bicara tegas, “Tidak!
Perempuan harus selalu waspada, jika sudah waspada maka pelecehan seksual itu bisa dicegah. Karena umumnya pelecehan terjadi karena perempuan kurang awas dengan lingkungan sekitar. Pelecehan seksual pun bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Cara pandang masyarakat tentang perempuan harus diubah, selama perempuan dianggap sebagai objek, pelecehan seksual akan terus terjadi. (Tia/ESW/Newsroom)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar