Kaum Hawa dalam “Ini Scene Kami Juga” - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Kaum Hawa dalam “Ini Scene Kami Juga”

Reporter : Rizki D. F.
Redaktur : Mulyani Pratiwi



(Ilustrasi Film Dokumenter “Ini Scene Kami Juga”)

SERANG - Musik dengan genre hardcore punk biasa digiati oleh kaum adam, namun di era digital kini rupanya para kaum hawa pun sudah tidak lagi sungkan untuk mengekspresikan diri melalui musik bergenre keras ini. Dalam film dokumenter dengan judul “Ini Scene Kami Juga” yang dibuat oleh Hera Mary mengandung berbagai pernyataan bahwa musik hardcore punk bukannya hanya untuk laki-laki saja.
Berbagai komentar menegenai film ini dilontarkan oleh kaum hawa yang sebeleumnya menganggap bahwa perempuan yang menggiati skena music hardcore punk itu memiliki stigma yang buruk, akan tetapi setelah menyaksikan film ini dapat membantu untuk membuka pandangan mereka terhadap para perempuan yang menggiati genre musik tersebut.
 “Pikiran gue yang awalnya ngeliat cewe-cewe yang suka music hardcore punk itu buruk jadi terbuka, kaya ke tampar aja pikiran-pikiran buruk gue terhadap mereka, padahal mereka itu memiliki kreatifitas pemikiran yang gila dalam artian cerdas”. Tutur salah satu penonton film “Ini Scene Kami Juga”, Kartika (19).
Mahasiswi Ilmu Pemerintahan Untirta ini juga menjelaskan bahwa masih banyak perempuan dalam pergaulan tersebut yang mendapat kekerasan atau pelecehan seksual, dan dilakukan para laki-laki dalam acara musik hardcore punk.
“yang gua sayangin sih di sana masih banyak pelecehan seksual kepada perempuan, apa lagi jumlah perempuan disana lebih sedikit dibandingkan laki-laki, tidak ada kesadaran akan kesetaraan gender disana yang membuat masih terjadi pelecehan seksual” tambah perempuan yang akrab disapa Tika.
Seorang penggiat musik bergenre keras, Gilang Prabowo (22) menyatakan bahwa film ini bertujuan untuk melawan pandangan buruk terhadap wanita yang menggiati musik hardcore punk.
“Yang jelas, adanya film ini untuk melawan prejudice public atas kontribusi perempuan dalam skena hardcore punk. Mereka bukan untuk menjual diri, tapi mereka hanya menawarkan dan menunjukan bahwa ada skena yang begitu mewah, yang di buat kolektif oleh para perempuan dan juga laki-laki” tutur pria yang kerap disapa Gintol.
Gintol juga memberikan saran agar tidak heran dengan prempuan yang menggiati musik hardcore punk, karena mereka pun masih manusia. berbeda gender bukan halangan bagi kontribusi yang dapat diberikan. Ia juga berharap agar skena ini, bisa saling bergotong royong, dan menganggap skena itu adalah wajah gerakan independen. (RDF/ESW/Newsroom)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar