Kejamnya Puisi Pada Masa Orde Baru - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Kejamnya Puisi Pada Masa Orde Baru

Reporter : Nisa S.
Redaktur : Fatimatul Zahra




Sumber : Steveelu.com
(Penggalan bait karya puisi Wiji Thukul berjudul Peringatan pada masa orde baru)
SERANG - Era orde baru dipegang oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto yang berlangsung dari tahun 1968-1998. Dalam jangka waktu tersebut  perekonomian mengalami kenaikan dan masyarakat makmur namun kemakmuran tersebut dibarangi dengan adanya korupsi yang hebat sehingga  negara Indonesia mengalami krisis moneter. 

            Pada masa itu juga banyak penyair mengkritik pemerintah melalui puisi pada zaman orde baru yang dipicu adanya ketidakadilan pada masa itu. Tidak mengenal takut para penyair menyerukan kritik lewat syair sehingga penyampaiannya lebih bernilai dan menjadikan  instrumen penting dalam sistem pemerintahan yang demokrasi. 

            “Mengkritik pemerintah lewat puisi itu dibaca oleh banyak orang. Daripada kita berpidato dilihat banyak orang tapi dilupakan. Tapi kalau puisi abadi jadi istilah percuma kita demo, aksi, teriak dengan lantang di depan istana kepresiden tapi setelah itu dilupakan,” ujar Bayu Suta Wardianto, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia Untirta pada Sabtu (24/03). 

            Bahasa puisi yang mengandung sarkasme dinilai menjadi ancaman bagi pemerintah. Melalui puisi yang mengkritik dapat mempropagandakan masyarakat sehingga mudah mempercayai  oleh isi puisi tersebut. Pada zaman orde baru  banyak penyair yang diduga diculik oleh pemerintah disebabkan oleh isi puisinya yang dinilai sarkasme contohnya Wiji Thukul yang hilang pada tahun 1998. Hingga saat ini keberadaan para penyair tidak diketahui keberadaannya. 

“Kalau memang terjadi penculikan tentunya hal tersebut melanggar HAM, karena bila atas dasar suatu kritik, penculikan merupakan kesewenang-wenangan yang tidak dapat dibenarkan,” ujar mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Rizky Alfiansyah  pada Kamis (24/03). 

Menurut Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta juga penulis puisi yang karyanya sudah banyak diterbitkan, Firman Hadiansyah kala ditemui di Rumah Dunia, Serang pada Kamis (22/03) mengatakan bahwa perubahan puisi pada masa orde baru dan pada masa reformasi mengalami  perubahan karena zaman yang berubah, pendekatan pemerintah kepada masyarakat juga berbeda. Sehingga  pada zaman orde baru merupakan masa yang anti kritik sehingga dapat dicebloskan ke penjara  sebab otoritas presiden yang sangat luar biasa. (NS/FZ/Newsroom )

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar