Lahirnya Women March di Dunia - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Lahirnya Women March di Dunia

Reporter : Galuh Latifa Dea
Redaktur : Agnes Yusuf



Foto: Women March Indonesia

Serang (02/03),- Woman March atau yang di kenal sebagai hari Perempuan Internasioal merupakan bentuk gerakan perempuan untuk mempertahankan hak-hak mereka, sejak terbentuknya Woman March ini gerakan perempuan berkembang dan menjadi global. Women March terbentuk akibat ekonomi yang tidak stabil pada saat itu dan adanya ketidak adilan terhadap buruh pada pergantian abad ke-20.
Pada tanggal 8 Maret 1857 di New York ada sekelompok buruh pabrik tekstil perempuan yang melakukan Demonstrasi atas penindasan dan gaji buruh yang  rendah. Namun, sayangnya aksi tersebut di bubar paksa kan oleh pihak kepolisian. 
Amerika Serikat mulai menaruh perhatian terhadap perempuan yang melakukan aksi dan mengatakan bahwa mereka menghormati aksi tersebut pada 28 Februari 1909 Amerika serikat dan menetapkannnya sebagai Hari Perempuan Internasional. Bersamaan dengan hari itu Amerika Serikat melakukan Partai Sosialisasi
Kemudian Sosialis Internasional bertemu di Conpenhagen, Denmark lalu mengadakan konferensi internasional Pekerja Perempuan untuk menghormati hak-hak perempuan dan membangun dukungan untuk mencapai hak pilih universal bagi perempuan. Konferensi tersebut dihadiri oleh 100 perempuan dari 17 Negara.
Pada saat itu hak-hak perempuan masih saja terbatas, lalu pada tahun 1911 pihak Conpenhagen mengambil inisiatif untuk pertama kali pada peringatan Hari Perempuan Internasional  di Australia, Denmark, Jerman dan Swiss,19 Maret. Ada lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki yang menghadiri acara tersebut untuk memperjuangkan hak perempuan untuk bekerja, memiliki hak pilih, pelatihan kejuruan, memegang jabatan publik dan untuk mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan.
Kemudian Hari Perempuan Internasional berlanjut pada perang dunia ke 1 yaitu pada tahun 1913-1914. Hari perempuan internasional ini menjadi mekanisme untuk memprotes perang dunia 1 dan  melakukan perdamaian serta menggunakan solidaritas dengan ativis lainnya oleh Rusia.
Untuk ke dua kalinya pada tahun 1917 perempuan di Rusia melakukan demontrasi dan mogok kerja untuk “Roti dan Perdamaian” yang jatuh pada hari Minggu Februari di Rusia dan 8 Maret pada kalender Gregorian. Sejak saat ini lah hari peringatan perempuan inter nasional berganti menjadi tanggal 8 Maret.
Di Indonesia sendiri women march atau hari perempuan internasional masih sangat asing di telinga masyarakat, terlihat dari perayaan peringatan hari perempuan internasional tersebut masih sangat jarang dilakukan. Hanya beberapa aktivis gerakan perempuan yang melakukan perayaan tersebut.
            Women March  bisa dibilang juga emansipasi wanita, sekelompok wanita yang memberontak hak-hak mereka yang direnggut,   Risa sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi juga menambahkan "itu adalah sebuah situasi yang sangat bagus, sangat luar biasa dimana etika pelecehan wanita dimomen ini ialah sebuah seruan wanita bahwa kita itu punya hak dan punya kekuatan yang sama seperti laki-laki".
            Pada zaman ini hak-hak perempuan sudah mulai lepas dariterbelengguan masyarakat zaman dahulu seperti hak pendidikan, hak pekerjaan, kesetaraan gender dan lain-lain. Risa juga menambahkan bahwa untuk hak wanita sekarang sudah ada kemajuan namun belum signifikan, tapi menurutnya hal itu adalah tahap yang bagus. Dimana memang wanita harus unjuk diri.
Namun, sangat disayangkan sampai saat ini perempuan masih saja dilecehkan oleh laki-laki, Niswa mahasiswa Ilmu Komunikasi juga menambahkan bahwa budayanya kita masih memandang sebelah mata perempuan, misalnya ketua perempuan dan wakil perempuan saja masih dipermasalahkan.
“Kita jangan takut untuk berubah terus maju tidak pernah memandang bahwa kita perempuan dibanding laki-laki itu lemah itu tidak. Pokoknya We Bold To Change, kita harus berani untuk berubah” Imbuh Niswa. (GLD/AYT/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar