Lika-Liku Menempuh Pendidikan Anak Disabilitas Netra - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Lika-Liku Menempuh Pendidikan Anak Disabilitas Netra

Reporter : Tanti Nurmalasari
Redaktur : Hani Maulia

(Mukti saat menjadi narasumber di Untirta TV program Kupas Untirta)



Pria kelahiran 22 tahun silam, Abdul Mukti. seorang pria yang sedang menempuh pendidikan sarjana Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa semester 2 yang memiliki keterbatasan fisik sebut saja Tuna Netra yang sempat menunda Pendidikan Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah  ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun karena orangtuanya tidak mempercayai anaknya untuk melanjutkan sekolah normal karena khawatir jadi bahan cemoohan orang-orang. Tiga tahun berlalu, salah satu guru dari adiknya menyarankan untuk melanjutkan sekolah khusus disabilitas. Mukti memiliki dua adik, yang sama-sama menderita Tuna Netra. Setelah mendengar kabar baik itu, Mukti langsung mencari tahu tentang sekolah khusus tersebut. Selama di SMP  Mukti sempat kaget dan kebingungan melihat materi pembelajaran yang umum, karena di sekolah sebelumnya lebih mengajarkan Sekolah Agama Islam.

Walaupun sempat menganggur dan berhenti sekolah selama tiga tahun, ia selalu dibanjiri prestasi akademik dan non akademik. Jenjang SMP ia sering mendapat juara di lomba Catur, naik ke jenjang menengah atas ia mengikuti event Festival & Lomba seni Siswa Nasional (FLS2N) dengan mengikuti lomba menyanyi, juara 3 Nasional Olimpiade Matematika di Yogyakarta, juara 2 Nasional Catur di Makasar, mewakili kota Cilegon dalam MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) 2017 ke tingkat provinsi untuk lomba Qori’ah, dan yang terakhir juara 3 catur di Tangerang,

Hobi dan bakatnya menyanyi membawa Mukti bercita cita memliki sanggar seni khusus untuk kaum disabilitas netra di kota kelahirannya Cilegon. “Saya berkeinginan menciptakan sanggar musik, jadi yang nantinya bisa dipakai sebagai profesi atau keahlian untuk kaum disabilitas netra, karena orang-orang seperti saya mayoritas kalau enggak lari ke musik ya ke pijat,” ungkap Mukti saat ditemui Jumat (23/2/2018) lalu. Keinginannyapun terlaksana namun anggotanya masih empat orang karena terkendala alat yang masih pinjaman, dan kesulitan mendata orang-orang yang ingin bergabung dalam sanggar mereka untuk sekedar belajar atau berkontribusi lebih. Selesai menempuh pendidikan di sekolah, mukti melanjutkan pendidikan tinggi sebagai seorang sarjana pendidikian Luar biasa yang kontribusinya setelah lulus nanti berkeinginan mengajar anak-anak yang membutuhkan ilmu namun terhambat oleh keadaan fisik ataupun biaya.

Selama mengikuti perkuliahan, Mukti merasa kesulitan dalam hal sarana buku, seharusnya tersedia buku Braille buku yang memudahkan tuna netra dalam mencari referensi buku yang diberikan oleh dosen. Mukti harus kerja ekstra dalam menjalaninya. “Kalau saya mau baca buku atau ada tugas harus cari reader sukarelawan yang mau bacain buku buat saya. Kalau ada tugas yang harus mereferensi dan merangkum sebuah buku dan ditulis tangan saya harus benar-benar ekstra cari pembaca, dan pembaca ini yang benar-benar mau membacakan dan menuliskan kembali,” kata Mukti bercerita pada senja hari. Lika-liku dalam kehidupan bukanlah sebagai tantangan baginya, namun sebagai pembelajaran dan motivasi bagi hidupnya ke depan, jangan mengeluh dan terus semangat dalam menjalani setiap rintangan kehidupan. (TNT/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar