Mengejar Cita – Cita Sebagai Pemain Gitaris yang Profesional - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

Mengejar Cita – Cita Sebagai Pemain Gitaris yang Profesional

Reporter : Abdul Ghani T.
Redaktur : Hani Maulia




Abdul Karim Zuhar Tri Yunanto (dok. Pribadi)

Dia bernama lengkap Abdul Karim Zuhar Tri Yunanto, pemain gitar lahir 6 Juni 1998 yang lebih sering dipanggil Karim oleh temannya. Karim adalah mantan gitaris pada masa sekolahnya yang mempunyai grup band bersama teman-temannya. Karim dilahirkan di Serang, Banten dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang memiliki ekonomi terbatas. Ibunya adalah seorang penjual warung kecil di halaman rumahnya dan bapaknya adalah pensiunan TNI Angkatan Darat.

Sejak tahun 2013, pada usia 15-an saat dia masih duduk di bangku kelas satu SMA,  dia memiliki hobi bermusik dan dia memiliki cita – cita sebagai pemain gitar yang  profesional. Dalam kondisi ekonomi yang bercukupan dia sehari-harinya menabung untuk membeli gitar agar dia bisa berlatih dan memainkan sebuah gitar, dengan jerihp ayah yang dia dapatkan dalam menabung selama 6  bulan dari uang saku sekolahnya dia berhasil membeli sebuah gitar yang dia inginkan sejak awal masuk sekolah pada masa SMA.

Pada saat itu dia menjadi lebih sering berlatih memainkan gitar dari jerih payahnya untuk mengejar cita-citanya, dan dia sering berkumpul dengan teman-temannya di sebuah tempat yang sering dijadikan untuk berlatih dan memainkan alat musiknya.

Pada saat dia menginjak bangku kelas dua SMA, dia bersama teman – temannya membentuk sebuah grup band dan dia diposisikan sebagai pemain gitar. “Jadi pada saat  SMA, saya membentuk grup band bersama teman-teman saya. Saya pikir memainkan alat musik seperti gitar sangatlah susah tetapi dengan adanya niatan saya besar ingin menjadi seorang pemain gitar yang profesional, mulai dari situ saya berlatih untuk memainkannya dan terus berlatih. Memang pada awalnya sangatlah susah untuk memainkannya tidak segampang yang saya pikirkan, walaupun banyak kendala yang saya alami seperti kurang tidur, kurang makan, dan hingga jari–jari tangan saya mengalami cedera. Saya terus berjuang dan berlatih agar bisa memainkan alat musik tersebut. Baru pertama kali saya dan grup band saya tampil pada saat Pentas Seni (Pensi) disekolah saya,  saya gugup karena seumur hidup saya belum terbiasa tampil banyak orang dan ketika perpisahan sekolah saya bersama grup band saya untuk menampilkan lagi yang kedua kalinya,  saat itu saya sudah terbiasa dan tidak merasa gugup lagi dihadapan orang-orang banyak,” katanya bercerita.

Pada saat dia menginjak bangku perkuliahan,  dia terlepas dari grup bandnya dan jarang berkumpul lagi karena teman-temannya sudah pergi untuk melanjutkan pendidikannya masing-masing. Pada awal masuk perkuliahan dia tertarik untuk mengikuti  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Keluarga Seni Musik Kampus (Klasik) Untirta karena ingin melanjutkan hobinya di dunia musik dan mengejar cita-citanya sebagai pemain gitar yang hebat dan profesional.

Beranjak di semester dua dia sudah tidak tertarik lagi mengikuti UKM Klasik tersebut karena dia sudah bertemu teman barunya yang memiliki hobi yang sama sebagai pencinta musik dan dia berfikir khawatir mengganggu perkuliahannya. Dia bersama teman barunya membuat komunitas kecil atau suatu perkumpulan pencinta musik, mulai dari situ dia pun terus berlatih dan berlatih bersama teman barunya diperkuliahan. “Pada awalnya saya tertarik untuk mengikuti UKM Klasik tersebut karena di pandangan saya mungkin disana ketika saya masuk UKM  tersebut saya bisa menjadi seorang gitaris yang  hebat dari sebelumnya dan tetapi saya berfikir bagaimana dengan perkulihan saya. Dan sayapun mencari solusi untuk memecahkan masalah yang  ada dipikiran saya. Ketika saya sudah mengenal teman-teman perkuliahan saya, disitu banyak teman-teman yang  satu kelas sama saya dan hobinya juga sama seperti dengan saya yaitu pencinta musik, mulailah dari situ  saya dan teman satu kelas untuk membuat komunitas kecil atau sebuah perkumpulan,” ujarnya.

Setiap weekend atau hari libur dia dan komunitasnya berkumpul dan berlatih bersama-sama, tidak hanya berkumpul saja tetapi membantu masyarakat yang kurang mampu dengan cara penggalangan dana dijalanan dengan bernyanyi dan memainkan alat musik yang enak didengar dan menarik hingga masyarakat yang melintas memberi sedikit rezekinya untuk membatu orang yang kurang mampu hingga bantuan untuk yatim piatu.  Hingga dana tersebut sudah terkumpul banyak dari yang dia dapatkan di jalanan, dia bersama komunitasnya pergi kepada orang-orang yang kurang mampu dan menuju panti yatim piatu untuk memberikan sedikit rezeki atas yang dia dapatkan dari penggalangan dana di jalanan.

Dengan adanya peringatan Hari Musik Nasional, dia berharap kepada semua orang di luar sana atau kepada orang yang belum memiliki jiwa pencinta musik: “Ayo harumkan nama bangsa kita dengan cara berkarya. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk berkarya seperti melukis, gambar, memainkan alat musik,” katanya berharap. (AGT/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar