Mengenali Pola Asuh yang Baik Untuk Down Syndrome - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Mengenali Pola Asuh yang Baik Untuk Down Syndrome

Reporter : Gea Yustika
Redaktur : Mulyani Pratiwi


(sumber : Pinterest, anak downsyndrome yang sedang belajar mengenai hal-hal baru)

SERANG - Hari Down Syndrome Sedunia atau World Down Syndrome Day (WDSD) diperingati setiap bulan Maret dihari ke-21. Merpuakan sebuah kelainan yang terdapat pada genetika seseorang, Down Syndrome bisa dijadikan sebuah kelebihan dengan suatu pola asuh yang tepat. Banyak yang berpendapat, bahwa anak dengan down syndrome adalah anak-anak yang istimewa.

Seorang mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Nurul Maulia bercerita tentang adiknya yang memiliki kebutuhan khusus. Adik perempuannya yang bernama Azahra Lestari mengidap Tuna Grahita. 

“Adik aku didiagnosa Tuna Grahita, yang katanya pola pikirnya itu gak sesuai dengan umurnya sekarang. Misal, adik aku umur 15 tahun tapi pola pikirnya masih seperti anak 5-6 tahun.”  Kata Nurul. 

Nurul dan keluarganya menerapkan pola pengasuhan di rumah terhadap adiknya, dengan tidak pernah melarang untuk melakukan apapun namun tetap terpantau. Untuk meningkatkan nafsu makan, mereka memilih makanan apa yang Zahra suka. Kedua orangtuanya pun tidak pernah memarahi, justru memberi perhatian dan pemahaman lebih.

Menurut pandangan psikolog muda lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH), Rayyan Wibisono mengenai pola asuh yang baik terhadap anak Down Syndrome dengan cara memberikan bimbingan seperti anak normal lainnya atau bahkan lebih. 

“Karena individu dengan down syndrome perlu waktu yang lebih, dalam mempelajari sesuatu atau mengembangkan potensi diri mereka. Tahap demi tahap yang dilalui berdasarkan kemampuan mereka. Selain itu perlu juga kesabaran dan pengertian dari orang-orang sekitar mereka dalam mengawasi, membimbing, dan menjaga.” Tambah Rayyan.

Psikolog kelahiran Bekasi ini menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh lingkungan sekitar anak dengan Down Syndrome ini, memiliki efek yang sangat signifikan meski dalam kemampuan kognitif dan fisik mereka sedikit perlu waktu lebih dalam berkembang, bagaimana pun mereka memiliki perasaan atau emosi dalam diri mereka. 

Meski memiliki kekurangan, namun ada satu kelebihan yang dimiliki oleh Zahra. “Aku dan keluargaku lihat, zahra itu mahir di bidang IT, seperti mengelola komputer dan main gawai. Tapi untuk mengarahkan lebih dalamnya lagi itu kita kan perlu konsultasi sama psikolog, buat mengetahui lebih jauh bakat dan keahlian apa yang dia punya.” Jawab Nurul.

“Jadilah support system yang terbaik untuk mereka, cari tahu tentang down syndrome lebih banyak lagi, agar bisa memahami dan mengerti akan kebutuhan mereka. Tidak hanya waktu dan kesabaran saja, tapi akan ada faktor-faktor lain yang dibutuhkan selama membimbing mereka.” Ujar Rayyan. (Newsroom/GY/ESW)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar