Minimnya Peran Perempuan Di Politik Banten - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Minimnya Peran Perempuan Di Politik Banten

Reporter : Rezka Listiani Sinaga
Redaktur : Fatimatul Zahra


(Gedung DPRD Banten yang berlokasi Jalan Syech Nawawi Al-Bantani Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B)/sumber :Google)

            SERANG (04/03), keterwakilan perempuan dalam dunia politik khususnya di daerah Banten masih minim. Padahal, hak keterlibatan perempuan dalam dunia politik sudah ditetapkan dalam Undang Undang Nomor 7 tahun 2014 tentang Pemilu yang menyebutkan bahwa kuota perempuan dalam bidang politik ialah sebanyak 30%.
            Dilansir dari bantennews, kuota perempuan di Banten yang melibatkan diri ke dunia Politik hanya sekitar 18,33 persen. “Sebenarnya bukan masalah kuotanya, karena kuota perempuan di Indonesia 30%, tetapi masih kurangnya kesadaran atau justru budaya patriarki lah yang menekan angka partisipasi perempuan sehingga hanya mencapai 20%” ujar Ika, Dosen Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jum’at (02/03).
Selain kurangnya rasa percaya diri, minimnya keterlibatan ini dipicu karena pemahaman perempuan dengan dunia politik masih kurang, bahkan ada yang tidak peduli dengan politik. Masih banyak perempuan yang berpikiran bahwa mereka lebih baik didapur saja mengurus keluarga dibandingkan harus mengurusi masyarakat. Sedangkan menurut Ika, peran perempuan itu sangat penting dalam bidang politik, “Salah satu bentuk perwujudan emansipasi perempuan kan masuknya perempuan ke dalam ranah-ranah yang sebelumnya hanya diisi laki-laki, termasuk juga ranah politik. Karena dari dulu ranah politik dianggap ruang publik yang pantang diisi oleh perempuan. Jika sampai perempuan tidak ada yang masuk dalam dunia politik, berarti sama saja telah menggagalkan emansipasi”.
Sebelum melaksanakan politik di bidang legislatif yang sesungguhnya, perempuan khususnya yang masih mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, dapat belajar melalui politik kampus. Hal itu dibenarkan oleh Risa, ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta yang memasuki politik kampus “Jika ingin memasuki dunia politik yang sesungguhnya diluar sana, kita bisa memulai dengan cara masuk politik kampus, dan selain mendapatkan wawasan juga pengalaman, politik kampus juga merupakan ajang kita untuk menunjukkan taring kita, sehingga kita tidak diremehkan dengan laki-laki”.
Risa menambahkan bahwa mengikuti politik di kampus juga tidak kalah sulitnya dengan politik diluar sana, karena juga mempelajari bagaimana mempersuasi masyarakat, mengatur tatanan jurusan, yang harus diimbangi dengan kewajiban belajar sebagai mahasiswa. Perempuan yang memasuki politik di kampus juga masih dikatakan rendah, karena faktor lingkungan dan masyarakat yang masih kurang percaya terhadap adanya perempuan yang menjadi pemimpin.
Iya, waktu saya berkampanye beberapa bulan lalu, saya mendengar ada beberapa yang berpandangan lebih baik laki-laki yang menjadi pemimpin, bahkan soal kepemimpinan laki-laki itu disangkut pautkan dengan agama” ujar Risa. (RLS/FZ/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar