Motor Literasi: komunitas pegiat bacaan masyarakat - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Motor Literasi: komunitas pegiat bacaan masyarakat

Reporter : M. Reza Pratama
Redaktur : Jasmine Putri Larasati



Anak-anak yang sedang membaca buku di lapak Motor Literasi di Alun-alun Kota Serang (sumber: Instgram : moli_motorliterasi)

Literasi adalah kemampuan individu mengolah dan memahami informasi saat membaca atau menulis. Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis, oleh karena itu, literasi tidak terlepas dari keterampilan bahasa yaitu pengetahuan bahasa tulis dan lisan yang memerlukan serangkaian kemampuan kognitif. Membaca dapat meningkatkan kemampuan otak kita agar semakin pintar. Buku adalah salah satu media bacaan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan otak kita.

Di kota Serang terdapat pegiat literasi yaitu Motor Literasi (Moli). “Motor Literasi  (Moli) adalah gabungan dari anak-anak motor dan pengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Sengaja saya buat sebagai cara untuk memudahkan akses terutama jika membawa buku ke kampung-kampung.” Ujar Firman Venayaksa selaku ketua komunitas Motor Literasi. 

Dengan adanya buku kita dapat mengetahui tentang apapun yang ada di dunia ini, dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar. Buku juga dapat menambah wawasan kita. Maka dari itu, Motor Literasi (Moli) yang bekerja sama dengan TBM yang ada di kota Serang, mendistribusikan buku ke kampung-kampung di daerah terpencil untuk membantu masyarakat agar bisa membaca buku.

Hal yang dapat kita baca di dalam buku salah satunya adalah puisi. Puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna. Puisi dapat mewakili perasaan seseorang melalui irama, rima, dan bait disaat kita tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

“Puisi itu adalah cabang seni. Sama seperti musik, tari dan lain-lain. Puisi adalah bagian dari ekspresi jiwa yang dituangkan dalam kata-kata puitik”  ujar Firman Veneyaksa saat ditanyai arti puisi. 

Dengan berpuisi bisa mengekpresikan emosi yang ada dalam diri seseorang. Namun sangat disayangkan, para remaja saat ini masih kurang menyukai puisi. Menurut Firman para remaja di Indonesia yang kurang menyukai puisi karena minat membacanya masih kurang. Di negara modern, remaja menyukai puisi karena mereka mudah mendapatkan akses bacaan. 

“Saya percaya jika akses terhadap bacaan lebih baik, secara berangsur-angsur, remaja akan menyukainya.” imbuhnya.

Menurut Rizka mahasiswi Untirta, ia sangat prihatin kepada remaja di Indonesia yang kurang menyukai puisi. 

Cukup prihatin, padahal untuk remaja zaman milenial seperti sekarang, puisi bisa menjadi sesuatu yang antimainstream dan menambah kamus kalimat saat menulis caption di sosial media” imbuhnya.
Sudah sepantasnya kita sebagai remaja harus tetap menyukai puisi bahkan ikut menyebarkan rasa suka kepada puisi yang dianggap kuno atau ketinggalan zaman. (MRP/JPL/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar