Musik Sebagai Budaya Perlawanan - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

Musik Sebagai Budaya Perlawanan


Reporter : Rizki Dwi F.
Redaktur : Mulyani Pratiwi





(Performa Komunitas Serabutan dalam anggung rakyat, International Women’s March,
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
Serang- Beragam genre musik didengarkan oleh masyarakat. Selain itu, musik juga dinilai oleh segelintir kalangan masyarakat dapat menjadi salah satu media propaganda untuk mengkritik berbagai masalah yang terjadi di masyarakat.

Salah seorang gitaris Komunitas Serabutan, Clinton Silaban (25) menuturkan bahwa mereka membuat sebuah band yang mengarah kepada budaya perlawanan, karena musik sangat dekat dengan masyarakat dan melalui musik masyarakat akan lebih peka terhadap keadaan sosialnya. Dengan lirik lagu yang bermakna dapat mengkritik dan melawan ketimpangan sosial yang terus terjadi. 

“Kami menciptakan komunitas ya bukan sebuah band meskipun kami ketika manggung hanya tiga personil tapi kami juga kerap kali kolaborasi bersama kawan-kawan lainnya. Kami membuat komunitas ini karena musik itu sangat dekat sama masyarakat dan kami ingin masyarakat lebih peka dengan kondisi sosialnya. Bukan Cuma itu dengan lagu yang kami buat seperti tanah dan air, itu tercipta karena adanya perlawanan masyarakat Kecamatan Baros Cadasari akan penggusuran tanah dan penghisapan sumber mata air masyarakat secara illegal yang dilakukan oleh anak dari PT. Mayora satu tahun silam. Dengan adanya kritikan didalam lagu itu aku harap masyarakat sadar dan mau berfikir kritis terhadap masalah sosial bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja” Ujar Clinton, saat dijumpai di aula UIN Banten (8/3).

Personil lainnya dari Komunitas Serabutan, Jonah Silas (25) menyatakan bahwa banyak musisi membawa musik ke dalam sebuah budaya untuk melawan ketidakadilan hukum ataupun ketertindasan masyarakat menengah kebawah, seperti group band Superman Is Dead (SID) dan Mineral Seven

“Sudah banyak kok musisi yang membawa musik menjadi media propaganda untuk melawan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat. Ya, contohnya SID ataupun Mineral Seven mereka memaknai musik untuk melawan, dan musisi seperti yang menjadi inspirasi kami membawa musik kedalam budaya perlawanan” jawab penabuh drum Serabutan, Jonah yang juga dijumpai usai tampil di panggung rakyat UIN Sultan Maulana Hassanudin Banten (8/3).

Salah seorang mahasiswa jurusan hokum di Untirta, Raihan Ijlal (19) mengatakan bahwa banyak musisi yang liriknya mengkritik, ataupun bertujuan untuk penyadaran terhadap masyarakat terkait berbagai masalah sosial yang terjadi, karena musik pun bukan hanya sekedar masalah cinta saja. 

“Aku sangat senang kerena banyak musisi yang isi lagunya mengkritik atau menyadarkan masyarakat luas. Musik itu harus mampu menjadi energi yang membawa perubahan pada pola pikir masyarakat terhadap masalah sosialnya dan juga musik itu bukan untuk masalah percintaan seseorang saja. Dan bila di kampus aku pernah menyaksikan band yang lebih mengarah ke perlawanan itu ada Serabutan, Sebulan, dan Slow ya memang hanya kalangan aktifis kampus saja yang tahu band progresif itu.” Tutur Raihan, saat di temui tengah menonton panggung rakyat UIN Sultan Maulana Hassanudin Banten. (Newsroom/RDF/ESW)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar