Pakaian Perempuan Aktivis - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Pakaian Perempuan Aktivis

Reporter : Dea Ulfiani
Redaktur : Jasmine Putri Larasati


Sejumlah Aktivis  Perempuan. (Sumber foto : kabargayo.com)




Pakaian bagi perempuan adalah pelengkap diri. Arti pakaian yang indah dan cocok adalah bergantung pada cara pandang dari diri perempuan itu sendiri.  Perempuan dengan image sebagai seorng aktivis memliki sudut pandangnya tersendiri. 
Salah seorang aktivis perempuan bernama Nur Baiti Purwa Kartika atau biasa yang dipanggil Kartika adalah seorang aktivis perempuan, sejak dibangku Sekolah Menengah Atas(SMA) sudah ikut berbagai kegiatan social dan pendidikan, dan yang belakangan ini dia ikut serta diacara Women March di Jakarta dan Serang.  Menurut dia, arti pakaian adalah sebagai bentuk ekspresi diri.
“Menurut saya sendiri, pakaian bagi perempuan adalah bagaimana perempuan bisa mengekspresikan dirinya. Contohnya gini, biasanya tipe perempuan yang ceria itu lebih suka sama baju-baju yang berwana pink atau kamu lebih suka paka baju serba item dari atas sampai  kaki. Itu its okay selama kamu menjadi diri sendiri.” Ujar Kartika
Lain hal nya dengan Nani Marlina seorang aktivis berusia 28 tahun yang membatu menggalang dana untuk korban Suriah, dia melihat gaya berpakaian sebagai perempuan muslim yang seharusnya.
“Tergantung pribadinya, kalau saya ya, menurut Islam sebagai seorang perempuan muslim, harus jilbab nya menutupi dada, baju dan celana nya tidak ketat.” Ujar Nina
Perempuan dengan image aktivis dibelakangnya, menjadi sosoknya berbeda ditengah masyrakat. Menjadi perempuan yang membela kepentingan umum pun mampu merubah gaya berpakaiannya. Salah satunya adalah seorang aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN) yang sekarang lebih fokus menjadi aktivis diorganisasi tani, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Asterlyta Putrinda (22 tahun), mengaku bahwa mengenakan pakaian yang senyaman mungkin dan baik agar diterima oleh massa
“iya, walaupun kita sebagai perempuan itu bebas memakai baju apa saja. sebagai aktivis, aku diajarkan untuk berpakaian senyamanku sebebasku asalkan dapat diterima oleh massa. Bukan membatasi, tapi agar pekerjaan politik kita bisa jalan dengan baik, agar kita bisa diterima lebih dahulu oleh massa.”  Ucap  Asterlyta
Ia juga menambahkan “repot kalo misalnya kita pakai baju seenaknya kita dan akhirnya massa nya udah ilfeel duluan, ntar kita gabisa propaganda dan beri pendidikan untuk memajukan budaya dan pandangan mereka”
Sama halnya dengan Nina Marlina, yang menceritakan adanya perubahan gaya berpakaian sejak menjadi aktivis.
“iya tadinya memang pake jilbab, tapi ga terlalu lebar, biasa aja. Setelah ikut ini jadi ya gini, panjang jilbabnya” ucap Nina.
Aktivis perempuan dengan pakaiannya adalah cerminan diri dan menjadi seseorang yang percaya pada dirinya sendiri yang mengutamakan kenyamanan. Seperti yang dikatakan Katika, jangan takut untuk mengekspresikan diri melalui gaya berpakaian selama masih selama masih batas normal.
“Untuk perempuan-perempuan diluar sana jangan takut untuk pakai pakaian aneh, tapi menurut kalian itu bagus dan nyaman, pakai saja, kenapa engga. Selama menurut masih batas normal, masih menutupi bagian-bagian yang harusnya ditutupi, seperti bagian dada dan kelamain, menurut saya its okay. Jadi pesan saya adalah pakai pakaian yang membuat jadi diri sendiri” ujar Kartika. (DU/JPL/NewsRoom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar