Perempuan Penggenggam Kehidupan - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Perempuan Penggenggam Kehidupan

Reporter : Aina Aristia Nengrum
Redaktur : Mulyani Pratiwi



SERANGBicara pasal perempuan, kira-kira sejenak apa yang terlintas dipikiran anda? Setiap perempuan memiliki daya tarik dengan cerita dan kekhasannya masing–masing. Namun, tak sedikit pula orang mempertanyakan bagaimana selayaknya menjadi seorang perempuan.
Seperti halnya dengan konsep adigium Jawa yang berpendapat bahwa perempuan itu identik dengan 3M, yaitu masak, macak, dan manak. Lalu bagaimana realitanya terhadap masa kini? Apakah semua masih tetap sama? Atau justru mengalami banyak perubahan?
“Perempuan sendiri berasal dari kata dasar empu, artinya orang yang dihormati, memiliki tingkat sosial yang tinggi, jadi otomatis memiliki posisi yang tinggi, posisi yang dihormati dan dihargai.”  ucap salah seorang dosen Ilmu Komunikasi, Untirta, sekaligus pejuang hak perempuan, Uliviana Restu saat dijumpai di Gedung D Lantai empat, sabtu silam (3/3).
Bu Uliv menyatakan bahwa berbicara mengenai perempuan, tak luput dari tugas utama seorang perempuan yakni menjaga keutuhan rumahnya. Sejatinya, telah ada pembagian tugas mengenai seorang perempuan dan laki–laki di dalam kehidupan berumah tangga.
“Semua urusan yang berkaitan dengan rumah itu, dia yang mengambil kebijakan, dan semua orang tidak ada yang menentang, termasuk suaminya sendiri. Tetapi, ketika urusannya urusan luar, suaminya yang mengambil kendali.” Tambahnya.
“Jangan bilang perempuan lemah, karena dia diberi kekuatan dalam bentuk yang lain. Laki–laki tidak akan kuat menanggung beban sembilan bulan dan melahirkan, tetapi dia akan kuat menanggung beban yang lain”, ujar salah satu dosen Ilmu Komunikasi, Untirta, Husnan Nurjuman (40) saat dijumpai dalam Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (3/3).
Sebuah pertanyaan besar yang selalu muncul adalah mengapa peranan perempuan tidak begitu signifikan di mata masyarakat? Lagi, yang menjadi pembeda adalah bagaimana pola pikir masyarakat dalam membangun persepsi bahwa perempuan itu menempati posisi di bawah laki–laki.
Segelintir masyarakat masih beranggapan bahwa perempuan dalam pemikiran–pemikiran yang mengatakan bahwa perempuan itu hanya bisa ke rumah, ke pasar, berbelanja, sedangkan laki-laki ke kantor, mencari uang tanpa pemaparan bahwa perempuan pun bisa melakukan hal yang sama.
“Konstruksi itu terbangun dari interaksi dalam masyarakat. Interaksinya bisa melalui pergaulan, bisa melalui pendidikan, bisa melalui media. Apa yang ditonton, itulah yang bisa menjadi konstruksi dikita.” tandas Husnan Nurjuman.
Seiring berkembangnya waktu, buah pikir di era lampau yang mengklasifikasi manusia sesuai gender dalam menjalankan hakikat hidupnya kini mulai berubah. Beberapa pandangan lama terhadap perempuan, lambat laun mulai terbuka dan adanya pengakuan kesetaraan gender. Perempuan zaman sekarang sudah mulai diterima dengan menjadi perempuan karier dan hal itu pun menjadi sangat wajar.
“Saya pribadi tidak akan melarang si perempuan untuk bekerja, tetapi si perempuan juga harus mengingat bahwa nafkah utama itu berasal dari suami”, ucap salah seorang mahasiswa hukum berdarah Jawa, Dany Ardy Saputra (20) saat diwawancarai via direct message pada hari minggu kemarin (4/3).
Perempuan modern yang hidup dengan adanya pengakuan kemerdekaan bebas dari rasisme, namun juga harus mampu dengan perihal konsep 3M tadi, yaitu masak, macak (Merias), dan manak (Beranak). Perempuan dapat dikatakan menjadi luar biasa, ketika ia dapat menyeimbangkan kewajiban dalam rumah juga sebagai seseorang yang meniti karir.
“Kalau di era modern, perempuan itu dianggap berhasil atau luar biasa adalah ketika dia mampu mencapai keseimbangan antara dua dunianya, pekerjaanya, dan juga keluarganya. Kalau itu berhasil, maka dia dianggap luar biasa. Perempuan karir itu tetap dituntut tidak bisa melupakan perannya di keluarga, walaupun dia punya peran sosial, dia tetap akan dilihat keberhasilannya dalam membina keluarganya”, tutur Bu Uliv sebagai kata – kata inspiratif bagi perempuan.         
Dengan demikian, menjadi seorang perempuan itu tidak mudah. Berat. Bahkan lelaki pun tidak akan kuat apabila diposisikan menjadi seorang perempuan. Sejatinya, diantara laki–laki dan perempuan semuanya sama. Pembedanya hanya terletak pada unsur–unsur tertentu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. (ANA/ESW/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar