Perempuan, Tidak Ada Batasan dalam Berdakwah - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 06 Maret 2018

Perempuan, Tidak Ada Batasan dalam Berdakwah

Reporter : Nisa Sofiah
Redaktur : Mulyani Pratiwi

Sumber: Palopopos.co.id
(Mama Dedeh sedang berdakwah di kota Palopo)


SERANG - Figur perempuan yang berdakwah boleh saja tidak semarak atau sesering pendakwah yang didominasi laki-laki. Mungkin perempuan biasanya dituntut menjalani rutinitas dirumah seperti, memasak, mencuci, mengurus anak, mengerjakan tugas rumah, dan atau lainnya. Aktifitas perempuan hanyalah di dalam rumah mereka sendiri. Sementara itu, berbeda dengan laki-laki yang biasa bekerja di luar rumah. Salah satu contohnya, berdakwah dengan jam kerja yang tak menentu hingga diundang ke luar kota bahkan luar negeri, Umunya laki-lakilah yang banyak dijumpai ketika berdakwah. Namun apakah ada batasan perempuan dalam berdakwah?  
Dalam berdakwah, tidak ada batasan harus laki-laki atau perempuan saja. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berdakwah. Semua pembaca Al-quran yang membacanya memiliki kewajiban untuk berdakwah. Karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban bagi seluruh umat Muslim.
“Pendakwah perempuan sih mungkin belum banyak tapi pernah liat juga di TV seperti acara mama dedeh. Jadi menurut saya itu baik dan sah-sah aja” ujar salah seoranng mahasiswa Teknik Mesin 2016 Untirta, Muhammad Hafish (19).
Perbedaan pendakwah perempuan dan pendakwah laki-laki adalah kekhasannya masing-masing. Perempuan dalam kekhasannya perempuan, seperti cara berbicara dan berpakaian dalam syari’at islam maupun sebaliknya.
Perempuan yang berdakwah, merupakan suatu terobosan bagi kaum perempuan kebanyakan. Biasanya perempuan bisa lebih terbuka dalam menanyakan masalah agama pada sesama kaum perempuan. Sehingga kaum perempuan tidak canggung atau merasa tidak enak untuk menanyakan hal yang bersifat pribadi.
Anggota FoSMaI FISIP Untirta, Lutfiah (19) mengatakan bahwa bagi perempuan mungkin tidak marak dengan cara ceramah seperti ustadz pada umumnya, namun banyak cara berdakwah yang cukup relevan saat ini.
“Salah satunya dengan berteman dengan banyak kalangan, tapi di era masa kini banyak pula perempuan yang turun ke jalan untuk menyerukan aksi dakwah.”  imbuh Lutfiah.
Salah seorang dosen Ilmu Komunikasi Untirta, Husnan Nurjuman (39) kala ditemui di Fakultas FISIP Untirta (02/03) menyatakan bahwa pendakwah perempuan juga harus belajar lebih dalam tentang nilai-nilai agama sehingga mampu menyampaikan kepada umat yang substansi dari ajaran agama, bukan hanya formalitas dari agamanya. Mampu bertanggung jawab atas apa yang disampaikan dan akan berdampak kepada masyarakat. Harus mempertimbangkan bagaimana dakwah itu membuat orang paham akan ajaran islam. Sehingga mampu merealisasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti menjaga persatuan, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan menjaga hubungan baik dengan semua orang. (NSH/ESW/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar