Perjalanan Hidup Sastrawan Untirta - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Perjalanan Hidup Sastrawan Untirta

Reporter : Dea Ulfiani
Redaktur : Hani Maulia



(Firman Venayaksa seorang dosen dan sastrawan Untirta)

Sastra merupakan karya seni di bidang tulisan. Melalui tulisan kita dapat mengungkapkan perasaan dalam diri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan hati yang resah, senang, sedih, atau memberontak pun dapat menghasilkan sebuah karya tulis. Seperti yang dilakukan oleh Firman Hadiansyah, dosen tetap Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesesia (PBSI) di Universitas Sultan Ageng  Tirtayasa (Unitirta). 

Pria 38 tahun ini lebih dikenal dengan nama Firman Venayaksa. Ia mengatakan nama Venayaksa mulai digunakan ketika masa kuliahnya dulu. Ketika itu ia mengetahui salah satu tokoh di kitab India bernama Kamasutra, dalam kitab tersebut tertulis dengan nama tokoh Venayaka. Kemudian dalam Venayaksa sendiri berasal dari kata Venayaka dari bahasa sansakerta yang artinya cinta kebijaksanaan. Menurutnya dalam menulis itu sebetulnya mengajak orang jadi bijaksana, mencoba untuk melihat realitas, dan menarik kesimpulan dari tulisan. Sejak saat itu dia mulai menggunakan nama pena Firman Venayaksa.

Ketika menginjak di bangku Sekolah Dasar (SD) ia sudah mulai gemar membaca. Mulai dari dongeng di salah satu majalah Wanita Indonesia milik ibunya, lalu belanjut membaca novel dan puisi. Kemudian ia juga sering mengunjungi perpustakaan ketika di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu dia mulai mengikuti banyak  kegiatan sekolah, sebelum memulai kegiatan ekstrakulikuler, waktu luangnya ia habiskan untuk mengunjungi perpustakaan. 

Memasuki masa perkuliahan, banyak komunitas dan kegiatan-kegiatan diskusi ia ikuti. Pria yang menempuh pendidikan strata satu PBSI di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini lebih mengenal dan berkecimpung di dunia sastra saat mengikuti komunitas Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) di kampusnya, yang setiap minggunya membahas karya-karya tulis. Sejak saat itu ia ingin lebih serius menjadi sastrawan.

“Menjadi sastrawan adalah panggilan jiwa karena menulis bagi saya adalah pilihan  hidup bukan pekerjaan pada umumnya, tapi pada memberikan karya seni. Jadi seperti juga musik, film, cuma kebetulan yang saya pilih ya nulis, ungkap Firman.

Beberapa contoh karya yang sudah Firman terbitkan adalah kumpulan cerpen “Tingbating”, Antologi puisi, Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia, 2005), Merdeka di Negeri Jawara (Lumbung Banten, 2007). Puisi-puisi yang ditulisnya merupakan puisi tentang protes sosial dan perenungan.

Artikel karya Firman yang berkesan dan membuat panas orang adalah saat mengkritik Rektor Untirta yang melakukan plagiasi. Artikel tersebut dimuat di koran Tempo yang berjudul “Rektor dan Plagiator”. Artikel tersebut dibuatnya dengan cukup tajam dan menjadi obrolan hangat nasional. Menurutnya tak masalah walaupun ia seorang tenaga pengajar di Untirta dan mengkritik atasannya. 

“Jika ada orang yang tidak menyukai tulisan saya, cukup balas dengan tulisan saja. Kita sebagai seorang penulis harus memiliki integritas. Jika merasa apa yang ditulis itu benar, apa yang perlu ditakuti,” ungkapnya. (DU/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar