Positif, Negatif, Berlari sambil Mendengarkan Musik - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

Positif, Negatif, Berlari sambil Mendengarkan Musik

Reporter : Atika Yahmadillah
Redaktur : Tiara Dwi Ristanti



(Para pelari yang sedang melakukan latihan lari di jogging track dan di pinggir jalan raya)
sumber : dok. pribadi

Serang- Olahraga saat ini tengah marak digandrungi oleh beragam kalangan, mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. Lari adalah salah satu diantaranya, olahraga cabang atletik ini dipilih karena mudah dan bisa dilakukan dimana saja. Pada era modern, banyak diantara mereka yang mendengarkan musik lewat earphone yang disambungkan ke gawai saat melakukan olahraga lari.

Musik yang biasa didengar ketika berlari, biasanya berfungsi untuk menghilangkan kebosanan atau kejenuhan. Selain itu musik yang didengarkan juga dapat berpengaruh terhadap peningkatan performa dan kecepatan dalam berlari, serta membuat tubuh merasa lebih positif.

“Menurut saya, musik sangat berpengaruh saat berlari, apalagi ketika melakukan latihan sendiri bukan latihan khusus untuk kejuaraan. Karena musik yang kita dengar dapat membantu menghilangkan rasa jenuh apabila tidak ada partner”, ujar Sonny Suwandi (20), atlet lari Kota Tangerang.

Berbeda dengan Sonny, Laode Putra (19) seorang mahasiswa Administrasi Publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), mengaku kurang nyaman mendengarkan musik ketika berlatih lari. Menurutnya hal terebut membuat tidak fokus terhadap kecepatan, dan juga cukup berbahaya lantaran kurang memerhatikan kondisi jalan sekitar.

Mendegarkan musik sambil berlari bukan hanya memberikan efek positif melainkan juga efek negatif. Apalagi ketika mendengarkan lagu yang tidak sesuai dengan tempo, serta volume yang penuh, dapat mengakibatkan rusaknya pendengaran sampai pecahnya gendang telinga. Musik yang dipilih saat berlari pun harus disesuaikan dengan tempo dan tidak boleh sembarangan. Biasanya mulai dari musik yang bertempo lambat sampai upbeat, menyesuaikan dengan irama jantung saat berlari.

“Kalau saya sendiri sah sah saja, tergantung kenyamanan dari si pelari tersebut. Musik memang sangat membantu agar lari dapat lebih dinikmati, namun itu hanya berlaku pada saat lari santai atau latihan lari saja, pada saat latihan khusus biasanya pelari membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi dan penuh agar dapat mecapai target, sehingga pelari tidak lagi membutuhkan musik saat sedang berlari”, ungkap Deka Angga Irawan, guru olahraga SMAN 2 Tangerang.

Kenyamanan saat melakukan olahraga lari memang timbul dari masing masing individu, baik sambil mendengarkan musik maupun tidak. Sesekali mendengarkan musik dalam berlari memang perlu, namun harus diperhatikan kembali musik yang sesuai dan volume yang tidak terlalu kencang agar tidak mengganggu kesehatan tubuh terutama telinga. Alangkah baiknya apabila mencari partner lari yang memiliki intensitas lari yang sama, sehingga tidak mudah lelah dan lari jadi jauh lebih menyenangkan.
(AYD/ARA/NEWSROOM)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar