Puisi Sebagai Penyaluran Aspirasi Mahasiswa Dalam Berkomunikasi Politik - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Puisi Sebagai Penyaluran Aspirasi Mahasiswa Dalam Berkomunikasi Politik

Reporter : Eksa Tania
Redaktur : Fatimatul Zahra



Penyampaian kritik melalui puisi yang dilakukan oleh mahasiswa di depan gedung DPRD Provinsi Banten dalam rangka menolak UU MD3 pada Kamis (8/3). 

SERANG – Puisi yang mengkritik pemerintah dapat menjadi sarana berkomunikasi politik karena didalam puisi tersebut terdapat pesan dan makna tersirat yang biasanya ditujukan untuk pemerintah dan sistem pemerintahannya.

Hal tersebut dinyatakan oleh dosen Untirta, Arip Senjaya saat diwawancarai di Kampus Untirta pada Jumat (23/3) Menurutnya, puisi dapat menjadi sarana untuk menyampaikan suara-suara rakyat dalam memberi kritik terhadap kinerja pemerintah. Puisi sangat efektif untuk mengkritik namun tidak serta merta mengubah kehidupan secara cepat. 

“Puisi dapat mudah tersampaikan dan dicerna oleh pemerintah jika penulis menggunakan bahasa yang vulgar dan satir. Penggunaan bahasa vulgar dalam puisi menjadi opsi terakhir ketika pemerintah tidak lagi mengerti bahasa simbolik.” Tambah Arip.

Bagi Ibnu Mas’ud, Mahasiswa Untirta mengatakan bahwa ada juga yang menulis diksi dari tiap puisi penuh dengan makna sehingga hanya beberapa saja yang tahu kalau itu adalah kritik.

”kritik yang disampaikan melalui puisi bersifat membangun sehingga akan membawa dampak positif bagi pemerintah. Puisi kritikan bukan menjadi alat politik untuk melemahkan pemerintah dan mengambil alih pemerintahan secara tidak konstitusional.”ujar Ibnu saat ditemui di tempat. 

Menurut mahasiswa semester 6 yang menjabat sebagai wakil ketua BEM Fisip, Puisi yang berisi kritikan politik bukan sebagai alat untuk menyalahkan sistem dan kinerja pemerintah serta mengajak rakyat berontak terhadap sistem pemerintahan tetapi, menjadi jembatan menyampaikan aspirasi rakyat untuk membenarkan sistem pemerintahan yang salah.

Ia juga menambahkan bawa puisi politik tidak hanya disampaikan saat sedang orasi atau berpidato saja, melaikan dapat disalurkan melalui media yang tengah menjamur saat ini sehingga dapat menjadi tombak utama untuk penyampaian kritik baik berupa puisi atau sejenisnya.

“Tetapi ingat, jika mengkritik itu harus ada dasar dan data yang sesungguhnya,” tutup Ibnu pada  Jumat (23/3). (ET/FZ/NEWSROOM)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar