Ratih: Fisik Terbatas Namun Pengabdiannya Tanpa Batas - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Senin, 05 Maret 2018

Ratih: Fisik Terbatas Namun Pengabdiannya Tanpa Batas

Reporter : Stephanus Salim
Redaktur : Hani Maulia


Ratih Lystianingtyas  (kanan), pada acara pengabdian masyarakat Jurusan PLB Untirta, Juli 2017. Foto: Dokumentasi HMJ PLB Untirta



Menjadi seorang dosen bukanlah sebuah hal yang mudah, namun pekerjaan inilah yang menjadi keseharian Ratih Listyaningtyas. Empat tahun sudah ia menjadi dosen di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Untirta terhitung sejak 2014. Mengalami gangguan penglihatan sejak kecil, tidak mengangap dirinya berbeda dengan orang lain. Saat ditemui di rumahnya di Komplek Permata Serang pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, ia bercerita bahwa masa kecilnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak, ia masih dapat leluasa bermain dengan teman sebayanya. Keluarganyapun tidak memberikan perlakuan khusus padanya ataupun membeda-bedakannya dengan orang-orang lingkungannya karena kondisi pengelihatannya yang tidak baik.

 Namun dirinya perlahan-lahan mulai paham saat ia mulai mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di kotanya. Namun itu juga tidak membuatnya merasa berbeda atau iri dengan orang lain, justru dengan berbagai macam kegiatan dan ekstrakulikuler khususnya di bidang Seni dan Sastra yang ada di SLB ia dapat mengasah kreatifitas dan menyalurkan berbagai hobi. Ia terbilang cukup berprestasi saat sekolah sempat mengikuti Jambore Nasional, Gelar Nusantara Anak Indonesia, tidak ketinggalan ia pernah menjuarai lomba menyanyi saat itu. Ratih pun merasa bahwa disitulah “lahan”nya untuk berkembang dan mengejar masa depannya.

           Ratih percaya bahwa yang membatasinya hanyalah sebatas penglihatan, ia percaya bahwa tidak ada perbedaannya dengan orang lain. Ia percaya kemampuan serta intelektual dan pola fikirnya sama dengan kebanyakan orang. Setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu SMA Negeri Reguler di Surakarta yang juga merupakan kota kelahirannya, Ratih muda melanjutkan studinya ke jenjang sarjana dengan jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat itu Ratih berkeinginan menjadi seorang guru sekolah. Bukan hal mudah bagi Ratih tentunya menempuh studi S1 nya. Tape recorder untuk merekan materi dan huruf Braille menjadi teman akrab baginya di kala mengerjakan tugas.


Lulus di tahun 2007 dan mencari pekerjaan sebagai guru, ia sempat merasa sulit mencari pekerjaan karena dipandang penyandang disabilitas namun ia akhirnya ia berkesempatan mengajar sebagi guru selama kurang lebih lima bulan sebelum  memutuskan untuk melanjutkan studi pasca sarjana untuk gelar magister di bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus di Univeristas Pendidikan Indobesia (UPI) pada 2010 tak lama kemudian lulus pada 2012. Di tahun yang sama tulisan yang ia buat untuk lomba mengarang Esai Braille Onkyo lulus ke tahap nasional dan kemudian dilombakan di tingkat Asia-Pasifik setelah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris.

Kembali mencari pekerjaan namun pandangan orang tentang penyandang disabilitas masih sangat sempit namun Ratih dapat membuktikan bahwa pandangan itu salah, ia berhasil lolos pada Tes CPNS pada tahun 2014 untuk pekerjaan sebagai dosen setelah sebelumya sempat gagal. Ia menunjukan kemampuannya sebagai akademisi dan mengabdi di Universitas Sultan Ageng Tirtaya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
 
Ia pun masih menoreh prestasi sampai sekarang tulisannya kembali masuk ke tahap Asia-Pasifik pada Onkyo Braille Essay Contest 2017. Tidak hanya itu Ia juga sempat menceritakan penghargaan yang ia dapat untuk Film Dokumenter yang dikerjakan bersama mahasiswa untuk lomba film di provinsi Banten, yang memenangkan 3 penghargaan sekaligus. Sungguh keterbatasan tidak sama sekali membuatnya menjadi terbatas. (STE/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar