Setia Budi Si Pembaca Puisi - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 27 Maret 2018

Setia Budi Si Pembaca Puisi

Reporter : Ahmad Khayatun Nufus
Redaktur : Hani Maulia





(Setia Budi saat beraksi di acara Hari Puisi Dunia)

            Tepatnya tanggal 21 Maret 2018, Kampus C Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang beralamat di Jl. Ciwaru Raya, Cipare, Kec. Serang, Kota Serang mengadakan acara Hari Puisi Dunia untuk memperingati Hari Puisi Nasional. Puisi dipercayai memiliki peran penting dalam sejarah. Peringatan ini juga menjadi sarana untuk memberikan dukungan bagi penulis puisi yang belum diketahui oleh masyarakat untuk menyuarakan isi hati mereka.

Salah satu mahasiswa Untirta yang bernama Setia Budi ikut serta memeriahkan acara tersebut. “Acara Hari Puisi Dunia ini sangat asik menurut saya karena semua orang boleh berpartisipasi untuk acara ini bahkan ada sebagian dosen juga yang mengikuti acara tersebut, ujar Setia Budi.

Prestasi yang  didapatkan Budi dalam membacakan puisi ini diantaranya ketika perlombaan di tingkat kabupaten untuk mewakili sekolahnya, Budi berhasil mendapatkan juara satu dan ditingkat provinsi Budi mendapatkan juara kedua. Setelah Budi masuk kuliah dia mengikuti organisasi teater dan disitulah dia menjadi pelopor untuk orang-orang yang ingin memperdalam tentang bagiamana teknik membaca puisi.

Perkembangan puisi di Indonesia sangat pesat. Banyak bermunculan penyair-penyair muda yang punya bakat kuat. Bukan tidak mungkin, akan mencatatkan nama dalam peta kesusastraan Indonesia, khususnya puisi. Ini sebuah fenomena yang menggembirakan. Semangat dan kreativitas semakin tinggi seharusnya, karena persaingan pun semakin ketat. Tentu saja yang diharapkan adalah persaingan yang sehat.

Awalnya saya tidak suka membaca puisi, ketika pada suatu saat di sekolah saya ada acara perlombaan membacakan puisi, teman-teman saya menunjuk saya untuk mengikuti acara tersebut, di situ saya merasa tidak percaya diri karena saya belum punya pengalaman membaca puisi. Akhirnya saya mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan ini dan singkat cerita saya mendapatkan juara satu di acara perlombaan ini, ungkapnya.

"Ada yang membuat saya menyesal sampai saat ini yaitu karena kesombongan saya pada saat lomba tingkat nasional di situ saya merasa bahwa saya sudah bisa dan saya tidak pernah berlatih sama sekali, dan pada saat perlombaan berlangsung banyak orang yang lebih bisa dari saya, dari situlah saya menyesal dan saya tidak mendapatkan juara di tingkat nasional. Semua itu saya jadikan pelajaran untuk saya supaya saya tidak menyepelekan hal yang sudah saya bisa," ujar Budi.

Tidak ada proses yang sia-sia, segala sesuatu mengalir sesuai dengan masing-masing prosesnya, puisi tidak lagi dianggap sebagai bentuk seni usang, tetapi juga memungkinkan masyarakat secara keseluruhan untuk mendapatkan jati diri mereka kembali dan yang paling terpenting untuk menegaskan identitas dirinya masing-masing.

“Di Hari Puisi Sedunia ini saya berharap kepada pemerintah agar memberikan perhatian lebih kepada para seniman-seniman di Kota Serang ini khususnya karena banyak diantara mereka justru terjerat dalam dunia narkotika dan salahnya pergaulan yang seharusnya para pemuda-pemuda ini berkreatifitas sehingga bisa menghasilkan dan menciptakan karya untuk mengharumkan nama bangsa, kata Setia Budi. (AKN/HNI/Newsroom).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar