Terbang Gembrung Belum Berakhir - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 13 Maret 2018

Terbang Gembrung Belum Berakhir

Reporter : Aina Aristia
Redaktur : Mulyani Pratiwi


(Permainan Terbang Gembrung. Dokumentasi :  Komunitas Kembali)

SERANG – Banten, salah satu provinsi yang berada di Pulau Jawa. Bicara soal Banten tidak terlepas dari keanakeragaman budayanya. Mulai dari peninggalan sejarah, ragam bahasa, hingga kesenian yang kental akan unsur religiusnya, termasuk pada musik tradisional.

Dewasa ini, musik tradisional jarang sekali terdengar bahkan hilang begitu saja. Serpihan alat musik yang menciptakan ciri khas tersendiri tidak lagi nampak jelas perwujudannya. Begitu pula dengan salah satu alat musik khas Banten, yaitu Terbang Gembrung.

Terbang Gembrung adalah salah satu alat musik khas Banten, tepatnya di desa Cikentang, Taktakan, Kota Serang yang terdiri dari alat musik berupa terbang, gendang, dan konteng. 

“Terbang itu kan seni, gembrungnya kesatuan. Aslinya dari Cikentang cuman tahun berapa itu adanya Saya juga tidak tahu bahkan Kakek Saya pun tidak tahu,” ujar Ketua Rukun Tetangga Desa Cikentang selaku penggagas kembali terbang gembrung, Tusman (43) saat ditemui di kediamannya (9/3). 

Banten sendiri memiliki berbagai jenis terbang yang dimainkan. Namun, untuk terbang gembrung sendiri memiliki ciri khas daripada terbang lainnya. 

“Dilihat dari terbangnya sudah berbeda, alat musiknya dan juga dari dzikirnya. Kalau dari musik yang lain bisa dibikin lagu modern, kalau kita tidak, jadi harus aslinya ngikutin yang dari dulunya aja,” tambah Tusman. 

Sama halnya dengan musik tradisional lain, terbang gembrung memiliki fungsi sebagai pengantar arakan baik pengantin sunat maupun pengantin nikah. Selain itu, terbang gembrung menjadi salah satu media untuk menyembah Tuhan lewat bacaan dzikirnya. 

Dalam penggunaan alat musiknya, biasanya terbang dimainkan oleh laki-laki dewasa atau bahkan bisa dikatakan dengan usia lanjut. Namun, dibalik itu semua menyimpan sebuah fakta yang mengkhawatirkan. “Terbang gembrung sebenarnya dibolehkan untuk anak muda, hanya untuk saat ini anak mudanya belum terangkat nih baru beberapa saja yang mau, jadi mungkin kedepannya bisa diremajakan. Sebenarnya tidak masalah, bukan diharuskan untuk orang tua, sehubungan yang paham terbang gembrung dan yang bisa terbang gembrung itu tinggal orang tuanya ini,” tandas Tusman.

Ironisnya, terbang telah punah sejak puluhan tahun lalu. Seperti yang dituturkan Tusman bahwa bangkai dari terbangnya sendiri tersebar di berbagai rumah warga. Peninggalan konteng dan terbangnya sendiri hanya menyisakan serpihan kayu yang rapuh dimakan usia. Sedangkan yang masih utuh adalah gendang yang terbuat dari kulit kijang. Maka dari itu, warga Cikentang memperbaiki kembali alat musik tradisional ini dan berinisiatif untuk menjadi sebuah perkumpulan.

Terlepas dari semua itu, kelestarian terbang gembrung sendiri bukan hanya menjadi kewajiban warga Cikentang, namun itu berlaku untuk kita semua sebagai generasi penerus budaya. 

“Saya yakin bisa bertahan, jika dinas terkait, Dewan Kesenian Banten, dan komunitas-komunitas seni tradisional menyebarluaskan kepada masyarakat Banten tentang adanya seni tradisional terbang gembrung itu sendiri juga didukung dengan adanya fasilitas dari pemerintah untuk pengadaan alat terbang gembrung,” ucap salah satu mantan ketua unit kegiatan mahasiswa Pandawa di Untirta, Cecep Fathurrohman (21). (Newsroom/ANA/ESW)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar