Hari Kartini: Bukan Sekedar Pawai Pakaian Daerah - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 24 April 2018

Hari Kartini: Bukan Sekedar Pawai Pakaian Daerah

Reporter : Ghea Yustika
Redaktur : Mulyani Pratiwi



Perayaan Hari Kartini dengan menyelenggarakan
pawai pakaian daerah yang berlangsung di sekolah dasar

SERANG – Tanggal 21 April di peringati oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Kartini, dimana  hari lahir sosok pahlawan perempuan yang juga memperjuangkan emansipasi perempuan pada saat itu. Pemikiran-pemikirannya, ia tuangkan ke dalam surat sehingga pada akhirnya membuat kaum perempuan memperoleh kesetaraan hak dalam bidang pendidikan.

Menurut salah seorang jurnalis yang menulis beberapa artikel mengenai Kartini, Nur Janti, memandang bahwa Kartini adalah penggerak perempuan Indonesia atau disebut juga sebagai pejuang feminis pertama, dan sosok pemikir perempuan. Dia sangat menginspirasi tokoh-tokoh perempuan lainnya.

Terdapat banyak seremonial untuk memperingati Hari Kartini, seperti yang selalu terjadi di sekolah-sekolah berbagai daerah yaitu pawai menggunakan baju adat daerah salah satunya adalah kebaya, serta berlomba-lomba bersolek menyerupai Kartini. Jika kita napak tilas sedikit, apakah ada hubungan antara peringatan Hari Kartini dengan penggunaan kebaya atau pawai pakaian adat?

“sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya di antara kedua itu sih, sebetulnya dengan cara seperti itu sama saja seperti memaknai Hari Kartini secara dangkal, karena mereka melihat figur kartini yang berkebaya. Jadi mereka memaknainya, ya dengan berkebaya saja. Harusnya orang memaknai pemikirannya bukan kemasan luar.” Jawab Janti (24) mengenai hubungan antara keduanya.

Sama halnya dengan pendapat Janti, Elok yang merupakan seorang guru di sekolah menengah atas di Tangerang ini memaknai jika di antara kedua hal tersebut tidak ada hubungannya jika dikaitkan dalam nilai sejarah.

“mungkin untuk anak anak supaya mengenal budaya mereka tapi tidak ada hubungan antara hari kartini dengan baju adat atau berkebaya lebih baik esensi dari Hari Kartini itu sendiri, yaitu perjuangan emansipasi perempuan.” Tambah Elok.

Dalam lomba-lomba seperti itu hanya menggambarkan citra diri seorang Kartini saja, jauh dari makna sesungguhnya mengenai peringatan Hari Kartini.

“kita tahu pada saat ini organisasi perempuan di indonesia sudah banyak, kita harus lebih peka melihat nasib perempuan bagaimana sekarang. Hambatan yang dilalui. Lebih peka juga terhadap nasib perempuaan. Dengan cara itu kita dapat melanggengkan kritik kartini terhadap hak-hak perempuan.” Pungkas Janti.

Janti berpendapat sosok Kartini masa kini, kita bisa melihat di dalam jiwa perempuan-perempuan yang berjuang menyuarakan haknya, karena itu seperti merefleksi kartini pada masa itu.

“Perempuan yang inspiratif, inovatif, dan ada spirit of entrepreneur. Dan saya kira the key perempuan maju itu adalah education.” Ucap Elok mengenai sosok Kartini masa kini menurutnya.

Nilai-nilai sejarah pencapaian Kartini serta semangat juangnya dalam memperjuangkan emansipasi, yang harus dipertahankan dan dimaknai oleh perempuan-perempuan masa kini. (GY/ESW/Newsroom)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar