Nina Yuliana, Dosen Penggali Budaya Lokal - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 24 April 2018

Nina Yuliana, Dosen Penggali Budaya Lokal

Reporter : Dea Ulfiani
Redaktur : Hani Maulia


Nina Yuliana (Dok. Fisip-untirta.ac.id)


“Sebenarnya yang  eksotik di Banten itu masih banyak sekali, tidak hanya Baduy, kenapa harus selalu Baduy?” itu yang selalu Nina Yuliana (37) katakan ketika ingin melakukan penelitian kebudayaan. Ya, Nina Yuliana adalah seorang dosen budaya di Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Dosen yang mulai mengajar di Untirta sejak tahun 2004 ini selalu mengajar Komunikasi Antar Budaya. Setelah merasakan pergejolakan batin selama 2 semester, membuat Nina Yuliana menyadari bahwa budaya Banten tidak hanya sekedar Baduy.

Perempuan kelahiran 8 Juni 1981 ini baru lulus Stata 3 (S3) dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2017. Disertasi yang dilakukannya mengenai kebudayaan hajat dan paguyuban di Walantaka. Namun sebelum melakukan penelitian tersebut, ia sempat meneliti tentang komunikasi spiritual masyarakat di Baduy Dalam. Karena mengalami pergeseran tulang belakang hingga tulang ekor membuat disertasinya terhambat dan tidak dilanjutkan.

“Nah kemudian ibu sadari bahwa sebenarnya yang eksotik di Banten itu masih banyak sekali, tidak hanya Baduy, kenapa harus selalu Baduy, masih ada daerah lain seperti di Walantaka sendiri. Ibu tidak ngeuh  kalau Walantaka itu kaya (budaya) sekali,” ujarnya pada Jumat (20/4/2018).

Ibu tiga anak ini menyadari bahwa di tempat tinggalnya, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, juga memiliki kebudayaan yang beragam. Ia menceritakan bahwa di Walantaka memiliki kebudayaan hajat yang tidak biasa, mereka juga miliki Ruwat Bumi yang dilakukan oleh masyarakat karena berterimakasih kepada bumi atas limpahan hasil bumi yang diberikan. Nina juga mendapatkan hasil penelitian bahwa terdapat maskot Walantaka, yang disebut dengan Wewe. Maskot ini biasa terdapat dalam prosesi hajat pernikahan. 

Terus di Walantaka itu ada yang membuat Wewe, Wewe itu persis sekali seperti ondel-ondel di Jakarta, yang membedakan adalah kenapa dia disebut Wewe karena mukanya yang agak seram, jadi konon menurut ceritanya ada seorang bapak yang ingin memberikan mainan kepada anaknya, nah anaknya itu tidak ganteng lalu bapaknya membuat wajah Wewe seperi wajah anaknya. Ketika boneka itu sudah jadi, jadi teman-temannya itu memanggilnya Wewe,”  ungkapnya.

Akibat sering menggali budaya lokak melalui penelitian, membuat ia memiliki cita-cita untuk tetap melestarikan budaya lokal dan menghargai budayawan melalui pendidikan di usia dini salah satunya. Menurutnya, saat kunjungan sekolah usia dini yang sering dilakukan oleh setiap sekolah, agar melakukan kunjungan ke budaya lokal, contohnya ke Walantaka. Selain anak mengetahui budayanya sendiri, budayawan yang terdapat disana juga ikut terbantu.

“Nih kalau anak TK di Serang misalnya, kunjungan ke Walantaka, disana itu masih banyak pengrajin Wewe  misalnya, selain anak itu tahu, pengarajin jjuga kena imbasnya. Contoh, satu anak kan biasanya dikenakan biaya, 5000 sampai 10.000 rupiah, itu sudah cukup lalu di kali beberapa anak, nah dari uang itu pengrajin diberi uang upah mengajari membuat kerajinan kepada anak, kan jadi terbantu budayawan disana,” jelas Nina Yuliana. (DU/HNI/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar