Puspita Asri Praceka: Ibu Juga Kepala Lab TV Komunikasi Untirta - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 24 April 2018

Puspita Asri Praceka: Ibu Juga Kepala Lab TV Komunikasi Untirta

Reporter : Ahmad Khayatun Nufus
Redaktur : Hani Maulia


Puspita Asri Praceka, S Sos., M.I.Kom (Dok. Fisip-untirta.ac.id)
           
Jumat sekitar pukul 14.00 WIB, saya menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang terdapat di Kampus A Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Bermaksud untuk bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai Kepala Laboratorium Televisi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.30 WIB akhirnya ia keluar dari ruangan tersebut. Puspita Asri Praceka, wanita berusia 34 tahun yang berhasil saya temui. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium TV FISIP Untirta.
Sejak 2008 ia menjadi dosen di Untirta akhirnya ia saat ini dipercaya menjadi Kepala Lab TV hingga sekarang, Keseriusannya mengemban amanah tidak pertu diragukan lagi, pertemuan siang itu ia banyak bercerita mengenai pengalamannya saat menjadi kepala lab. Selama 10 tahun berkarir di Untirta kelihatannya ia sangat menyukai sekali pekerjaannya sabagai dosen.
”Menjadi kepala lab menurut saya sangat menyenangkan karena bisa bertemu dengan mahasiswa setiap hari dan memberikan warna baru dalam hidup saya, jadi kalau keluh kesah menurut saya tidak ada sama sekali selama saya menjadi kepala lab ini dan selama 3 tahun ini saya justru banyak mendapatkan positifnya karena bisa memaksimalkan ilmu yang saya miliki karena saya langsung terjun ke prakteknya,” ujarnya bercerita.
Perempuan kelahiran 34 tahun silam ini juga bercerita bagiamana awal karirnya menjadi dosen di FISIP Untirta. Awalnya ia adalah seorang wartawan di Jakarta. Tujuannya mengambil konsentrasi Jurnalistik ia ingin sekali menjadi wartawan terkenal. Ketika ia lulus dan menjadi wartawan, kedua orang tuanya meminta ia untuk pulang ke Kota Serang, berhubung semua itu perintah kedua orang tuanya akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Kota Serang. Tekadnya menjadi seorang wartawan masih sangat kuat melekat di dalam dirinya.
“Sesampainya di Kota Serang seiring berjalannya waktu allhamdullilah diberikan jalan oleh Allah untuk saya menjadi dosen di Untirta dan ilmu-ilmu saya pun tetap terpakai. Seiring waktu berjalan memang menjadi dosen ini sangat menyenangkan jadi saya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan saya menjadi dosen dan saya bukan tipe orang rumahan, saya lebih suka bergaul dan senang berinteraksi dengan banyak orang jadi saya tidak merasa terganggu dan saya bisa mendapatkan kesenangan saya di luar rumah jadi sampai saat ini saya bertahan menjadi dosen,” katanya.
Selain menjadi dosen di Untirta, ia juga mempunyai TK dan tempat penitipan anak. Kesibukannya yang begitu padat tidak membuat ia lupa menjalani kewajibannya menjadi seorang ibu. “Di sela-sela kesibukan saya ini, saya tidak pernah merasa kehilangan waktu untuk berkumpul dengan keluarga karena jam kerja saya itu sangan ramah anak karena saya bisa pergi ke kampus setelah mengantar anak pergi ke sekolah dan cepat pulang sebelum anak sampai tiba di rumah,” ujarnya.
Ibu yang memiliki tiga orang anak ini awalnya tidak bercita-cita ingin menjadi dosen karena pada saat lulus SMA yang pertama ia cari pekerjaan bukan sebagai pengajar walaupun ia datang dari keluarga pengajar dari mulai kakeknya, bapaknya, bahkan ibunya pun dosen.
Bulan April adalah momen dimana Indonesia merayakan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini. Peringatan Hari Kartini ini dilakukan dengan berbagai macam aksi oleh kaum hawa. Kebanyakan, pengenaan busana kebaya dan sanggul masih dilakukan dalam acara peringatan tersebut. Namun berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh dosen Untirta ini, baginya perayaan bukan lagi seperti tersebut, lebih dari itu perempuan harus menunjukkan kontribusinya.
“Saya tidak terlalu nyaman dengan pemikiran seperti itu terlebih saya sebagai orang sunda, saya lebih melihat ada sosok orang sunda tetapi tidak terangkat yang kontribusinya itu tidak kalah dengan Kartini yaitu Dewi Sartika. Pada jaman sebelum kemerdekaan dia berfikir bahwa perempuan itu harus berdaya juga makanya dia mendirikan sekolah untuk perempuan. Jadi saya pikir apakah saya merayakan Hari Kartini? Saya tidak merayakan Hari Kartini, saya lebih melihatnya hari kartini sebagai titik tolak untuk berbenah diri tetapi bukan untuk melampaui atau untuk lebih sama dengan lelaki karena kodratnya laki-laki dan perempuan itu diciptakan oleh Allah berbeda,” kata Puspita Asri Praceka. (AKN/HNI/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar