Aksi Buruh: Tidak Boleh Ada Unsur Politik - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 15 Mei 2018

Aksi Buruh: Tidak Boleh Ada Unsur Politik

Reporter : Eksa Tania Putri
Redaktur : Fatimatul Zahra

 


Aksi Buruh pada Selasa (1/5/2018) di Jakarta yang disisipi unsur politik. (sumber: facebook.com).

SERANG – Hari Buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei dijadikan sebagai ajang para buruh menyuarakan haknya untuk mendapat kehidupan yang sejahtera. Namun, dalam peringatan tersebut tak luput dari peran para aktor politik yang ikut mengambil manfaat.seperti menyisipkan sejumlah kepentingannya didalam aksi May Day.
            Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal DPM Fisip Untirta, Iqbal Fadrullah mengatakan bahwa dalam menyuarakan hak para buruh pada tanggal 1 Mei itu dibenarkan dalam Negara demokrasi namun yang menjadi masalah yaitu ketika dalam aksi buruh ini terjadi tirani mayoritas atau penggiringan opini publik.
            “Terlihat sekali bahwa opini buruh ini digiring oleh salah satu aktor. Secara prosedural, mereka sudah benar turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka tetapi secara substansial mereka jelas ditunggangi oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan.” Ucapnya saat ditemui di Kampus Untirta pada Rabu (2/5).
            Para elite politik tersebut memanfaatkan momentum May Day untuk kepentingan dalam meraih dukungan suara pada 2019 mendatang. Para aktor politik giat mencari dukungan suara kekelas buruh atau pekerja dengan masuk kedalam peringatan Hari Buruh.
Berbeda dengan pendapat Iqbal, dilansir dari media daring mediaindonesia.com, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono menganggap wajar para buruh mengusung agenda politik saat melakukan aksi demonstrasi Hari Buruh. Ia juga mengungkapkan saat May Day di seluruh dunia juga seringkali membawa agenda politik.
Peringatan Hari Buruh seharusnya tidak boleh disisipi oleh partai politik dan calon legislatif untuk menyampaikan kepentingan pribadinya. Ketika buruh diintervensi segelintir kepentingan politik, akan menyebabkan massa buruh yang apatis terhadap politik dan meningkatnya perpecahan melalui ujaran kebencian.
“Ketika aksi buruh ditunggangi isu politik, nah disini ada yang salah. Mereka sangat mudah digiring dan dihegemoni. Itu yang sangat berbahaya ketika tirani mayoritas terjadi.” Tutup Iqbal.
(ET/FZ/NEWSROOM)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar