Bahaya, Tipu Daya Berita Palsu - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 08 Mei 2018

Bahaya, Tipu Daya Berita Palsu

Reporter : Tasha Meyra
Redaktur : Mulyani Pratiwi





Warga membubuhkan cap tangan saat aksi “Kick Out Hoax” di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1)
Foto: medantoday.com



SERANG – Diketahui belakangan ini perkembangan media massa terus meningkat, juga diiringi dengan berita hoax yang beredar di masyarakat. Hoax merupakan berita palsu yang dibuat oleh pihak tertentu untuk tujuan tertentu pula.
Dikutip dari salah satu paparan ketua Dewan Pers Indonesia di salah satu kegiatan, Stanley, mengungkapkan bahwa jumlah media massa di Indonesia mencapai angka 47.000. Di antaranya dari 2.000 media cetak, hanya ada 321 yang terverifikasi. Dari 43.300 media siber, hanya 168 saja yang terverifikasi. Lalu ada 674 media radio dan 523 media televisi. Hal inilah yang dirasa menjadi salah satu penyebab berita hoax tumbuh subur di Indonesia.
Menurut Cahyono Adi, selaku sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Banten, mengungkapkan bahwa hoax adalah sesuatu yang dapat merusak tatanan yang ada di masyarakat.
“Orang yang melempar hoax adalah orang tidak bertanggungjawab, baik kepada diri sendiri, pada keluarga, dan sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Lelaki pemilik Hot Radio Serang itu menambahkan, untuk mengukur suatu keaslian berita, dapat membandingkan berita yang dibaca dengan berita yang beredar di media-media mainstream (media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan).
Upaya PWI Provinsi Banten dalam mengatasi hoax adalah dengan mengadakan pelatihan untuk para wartawan. Pelatihan-pelatihan ini bertujuan agar wartawan bersikap lebih taat dan lebih memenuhi ketentuan dalam menulis suatu berita.
Niswa, selaku pengguna media sosial, menyatakan bahwa salah satu faktor hoax dapat berkembang biak dengan cepat di Indonesia adalah rendahnya minat baca dan tingginya durasi masyarakat di depan layar kaca.
“Gimana gak gampang tertipu berita bohong kalau minat bacanya aja rendah, jadi malas cari referensi, malas komparasi sumber, malas klarifikasi dari sumber ke sumber, malas scanning data dan ya jadilah kebanyakan masyarakat menelan mentah-mentah. Klik love mean aamiin, klik share mean masuk surga. Apalagi kalau orang Indonesia suka sama akun-akun gosip, lambe-lambe nyinyir,” ucapnya.
Wanita kelahiran Bogor itu berharap bahwa generasi muda Indonesia dapat cerdas dalam hal literasi digital dengan tidak malas membaca dan menyalurkan durasi di depan layar smartphone kepada hal yang lebih bermanfaat. (Newsroom/TMG/ESW)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar