Beragam Cara Dalam Memaknai Hari Pendidikan Nasional - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 08 Mei 2018

Beragam Cara Dalam Memaknai Hari Pendidikan Nasional

Reporter : Arif Ardiansyah
Redaktur : Agnes Yusuf






“Kegiatan Mahasiswa dalam Aksi Hardiknas KBM Untirta”
           
SERANG – Pada (2/5) lalu, kita semua telah memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan dianggap menjadi hak yang sangat penting bagi manusia. Ada banyak cara yang bisa dilakukan setiap orang untuk memaknai Hari Pendidikan Nasional ini. Salah satunya adalah aksi tuntutan BEM KBM Untirta yang dilakukan di depan Gedung Rektorat Untirta.
Dalam aksi ini, BEM KBM Untirta beserta para mahasiswa Untirta lainnya memberikan beberapa tuntutan kepada para jajaran Rektorat  dalam mengatur sistem di kampus yang mereka anggap telah mengganggu dan membebani mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Mereka beranggapan, Hari Pendidikan Nasional ini menjadi moment yang sangat pas untuk bisa menyuarakan tuntutan mereka demi kemajuan pendidikan di Untirta.
“Iya, ini kan sebagai memperingati hari pendidikan nasional, para mahasiswa telah memberikan tuntutan-tuntutannya terkait SPI atau banyak sekali permasalahan lain yang diangkat oleh para mahasiswa Untirta yang dipimpin oleh BEM KBM Untirta sendiri.” Kata Fuji mega utami (18), salah satu mahasiswi yang mengikuti kegiatan aksi ini.
Ia juga mengatakan, banyak teman-temannya yang diharuskan membayar uang SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) yang cukup tinggi namun mereka sendiri tidak merasakan fasilitas yang seimbang dan memadai bagi mereka sendiri di kampus.
“Saya sendiri sih tidak terlalu merasakan, tapi teman-teman saya merasakan yang SPI nya bisa dikatakan sangat tinggi sekali dibandingkan dengan fasilitas yang disediakan itu tidak seimbang dan tidak begitu memadai.” tuturnya
            Berbeda dengan hal tadi, mahasiswi Untirta bernama Siti Kholisoh Ahyani (20) atau yang sering dipanggil Hani, memiliki pendapat lain dalam memaknai Hari Pendidikan Nasional ini. Ia beranggapan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh dalam satu hari itu hanyalah sebuah ceremonial semata. Meski sering diadakan, namun beberapa kekurangan dalam menjalankan pendidikan tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
            “Itu hanyalah sebuah ceremonial semata. bertahun-tahun diadakan namun tidak memberikan dampak yang signifikan. Kesejahteraan pengajar yang jauh dari kata wajar, sarana dan prasarana yang masih menyedihkan” Tutur Hani saat ditanya tanggapannya mengenai Hari Pendidikan Nasional.
            Mahasiswi yang sering mengikuti kegiatan mengajar ke pelosok-pelosok desa dalam beberapa kegiatan seperti FISIP mengajar, Mari Mengajar, dan Banten Pintar ini juga mengatakan, Hardiknas ini seharusnya dilakukan setiap hari, karena mendidik tidak hanya butuh satu hari, tapi untuk seterus-terusnya.
            Mendidik tidak mesti tugas seorang guru, setiap manusia berkewajiban untuk mendidik. Jadi Hardiknas sebaiknya dilakukan setiap hari karena mendidik tidak hanya butuh satu hari, tapi sampai nanti waktu yang tak bisa dikehendaki.” Lanjutnya.
            Ia pun berharap, untuk kedepannya kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya pemerintah untuk mampu meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru. Kemudian, Sarana dan prasarana serta infrastruktur bisa diperbaiki serta pendidikan karakter atau budi pekerti kembali diterapkan. (AA/AY/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar