Faisal Tomi Saputra, Pilih Jadi Dosen Dibanding Jurnalis - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 01 Mei 2018

Faisal Tomi Saputra, Pilih Jadi Dosen Dibanding Jurnalis

Reporter : Atika Yahmadillah
Redaktur : Hani Maulia



(Faisal Tomi Saputra, Dosen Ilmu Komunikasi (sumber : dok pribadi))
Siapa tak kenal dosen termuda di jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Faisal Tomi Saputra namanya. Pria asal Cilegon ini lahir di Serang, 16 Maret 1989. Menjadi dosen bukanlah cita citanya, namun menurutnya dengan menjadi dosen ia dapat bebas mengeluarkan pendapat berdasarkan riset yang dilakukan, tridharma perguruan tinggi menuntut civitas untuk terus mengupgrade kemampuannya dalam bidang pengajaran/pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Menjadi dosen termuda tidak mebuat pria yang mendapat gelar S2 di Universitas Indonesia (UI) ini rendah diri. Ia bersyukur karena telah dipercaya oleh dosen dosen senior untuk menjadi kolegannya. “Saya bersyukur alhamdulillah, dapat kepercayaan dari dosen-dosen yang pernah mengajar saya sewaktu kuliah, dan sekarang menjadi kolega sebagai dosen,” ujarnya pada Minggu (29/4) mealui surat elektronik.
Sebelum menjadi dosen, ia bercerita bahwa ia pernah dilanda kegalauan antara memilih profesi jurnalis, karyawan swasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga menjadi dosen. Sampai akhirnya di tahun 2013, enam bulan setelah wisuda sarjana, ia memutuskan untuk melanjutkan studi di program magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN)-Calon dosen dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tingg  (Dikti), dan setelah lulus kembali mengabdi di kampus sebagai dosen karena merupakan kewajiban yang disepakati oleh dikti.
Dosen yang mengajar pada bidang jurnalistik ini pernah menjadi pimpinan umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Orange saat ia menempuh  jenjang S1 di Untirta. Walaupun ia tidak terjun langsung menjadi jurnalis, ia tetap mengajar pada bidang yang sama yakni jurnalistik, tetapi tidak spesifik menjadi wartawan media massa.
Menjadi dosen termuda memiliki keuntungan dan kelebihan sendiri. Menurut pria yang mempunyai hobi membaca dan menulis, menjadi dosen termuda memiliki keuntungan dan kesulitan tersendiri. Kentunganya adalah bisa banyak bertanya dan belajar dengan dosen senior, sedangkan kesulitannya adalah dalam menyusun bahan ajar dan rencana pembelajaran karena masih sedikit pengalamannya.
Pria yang akrab disapa ‘bang’ oleh para mahasiswanya ini, mengaku senang mendapatkan panggilan tersebut.  Panggilan tersebut muncul ketika pertama kali ia mengajar pada November 2015. Selain itu ia merasa belum pantas jika dipanggil dengan sebutan bapak.
“Ada mahasiswa yang dulu menjadi junior saya masuk ke kelas saya, tapi status saya sudah bukan sebagai seniornya lagi melainkan pengajar (dosennya). Selain itu saya masih sering diskusi dengan pengurus & anggota LPM Orange yang pernah saya bentuk dulu, ungkap pria yang juga bekerja sebagai humas dan marketing di Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang.
Walaupun ia baru terjun ke dunia pendidikan, ia telah melakukan berbagai penelitian, yaitu riset tentang Komunikasi politik di Suku Baduy, Pemilihan Gubernur Banten 2017, Komunikasi lintas budaya mahasiswa cosmopolitan, serta komunikasi sejarah, dan masih banyak lagi. Pengalaman menarik juga ia dapatkan saat menjadi dosen salah satunya adalah sering disebut mahasiswa oleh dosen-dosen senior saat di fakultas.
Tak hanya sampai S2, pria yang berumur 29 tahun ini, ingin melanjutkan pendidikan S3nya di kampus United States (USA) atau Eropa dengan jurusan komunikasi sejarah (budaya). Tak lupa juga ia berharap agar mahasiswa ilmu komunikasi tidak kudet dalam inovasi teknologi komunikasi dan bersiap menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 yang menuntut manusia Indonesia untuk cakap dalam segala bidang tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. (AY/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar