Husnan Nurjuman, Ingin Jadi Bagian Dari Perubahan - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 15 Mei 2018

Husnan Nurjuman, Ingin Jadi Bagian Dari Perubahan

Reporter : Jihan Chadijah
Redaktur :Hani Maulia



Sumber : Facebook/Husnan Nurjuman
“Lihat segalanya lebih dekat dan kau bisa menilai lebih bijaksana.” Itulah motto hidupnya. Laki-laki kelahiran Bogor yang tahun ini genap berusia 40 tahun memiliki nama lengkap Husnan Nurjuman. Setelah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Husnan memutuskan mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tahun 2003 Husnan menempuh gelar Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia, bukan tanpa pemikiran panjang Husnan mengambil jurusan komunikasi dikarenakan sejak kelas 2 Sekolah Menengah Pertama ia sudah gemar berceramah dan sudah dipercayai untuk mengajar teknik berpidato. Karena merasa memiliki passion dalam bidang berbicara dan menulis akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jurusan komunikasi.
Memiliki kesenangan di bidang sastra, musik, dan film yang menurutnya dapat menyeimbangkan antara pikiran yang serba matematis dengan otak kanan yang mencintai keindahan. “Film itu kan keindahan akting, keindahan gambar, keindahan warna. Sastra keindahan kata-kata, musik keindahan suara, nada, dan sebagainya itu semua anugerah,” tuturnya. Oleh sebab itu pula saat masa kuliahnya selain dihabiskan dengan diskusi, menonton teater juga pagelaran-pagelaran sastra merupakan kegemarannya di waktu senggang. Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, HMI, HIMA merupakan organisasi yang diikutinya.
Bercita-cita menjadi seseorang yang mampu menggerakan masyarakat, yang dalam artian berbuat sesuatu untuk masyarakat, untuk orang banyak dan ditambah lagi dengan harapan orangtua yang menginginkannya menjadi seorang guru, Husnan memutuskan untuk menjadi dosen. Tahun 2010 Husnan yang sudah berkeluarga pindah ke Serang, namun sebelumnya di tahun 2004 ia sudah menjadi dosen di FISIP Uhamka, Jakarta. Dengan berbagai pemikiran ingin lebih berpartisipasi dalam proses perubahan menurutnya di Jakarta ia hanya jadi satu butir yang tidak terlalu berpengaruh tetapi kalau di Serang ia percaya mahasiswa yang ia dampingi, yang ia motivasi akan menjadi perubahan bagi Banten, bagi Serang.
Orangtua, kawan-kawan juga tentunya keluarga istri dan anak-anak merupakan orang-orang yang berjasa dalam kesuksesan yang telah diraihnya sekarang ini. Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar, dari 24 jam 14 jamnya dihabiskan untuk urusan ini selama itu pula ia menjadi seorang dosen. Suka dan duka telah dilaluinya. “ Sukanya tentu saja kita menjadi bagian dari kehidupan orang, majunya orang, berkembangnya orang, berubahnya orang ternyata ada bagian kita disitu. Dukanya sering kali apa yang kita lakukan tidak sampai pada titik yang seharusnya. Harusnya kita menjadi bagian dari perubahan tetapi ternyata enggak,” Ia pun menambahkan bahwa sistem yang dimiliki sekarang belum cukup maksimal.
Penyiar radio, redaksi majalah, terlibat di sebuah perusahaan penerbitan buku, guru agama,bahkan ustad pernah ia jalani tetapi dosen jauh lebih menarik karena disamping berbicara ia juga bisa menulis dan yang paling penting memberikan pengaruh bagi orang lain. Sejak dahulu ketika menjadi mahasiswa hingga kini filsafat menjadi salah satu mata kuliah yang digemarinya, ketika ditanya mengapa? ” Karena mencari kebenaran,” jawabnya.
Selain kesibukannya menjadi dosen beberapa kesibukan lain yang dijalankannya seperti masih melakukan penelitian juga masih aktif di organisasi PP Muhamadiyah Jakarta sebagai Sekretaris Bidang Kesehatan. Dalam penelitiannya tidak jarang ia meneliti tentang dunia penyiaran yang dihubungkan dengan nilai-nilai agama islam. Selain latar belakang S1 komunikasi IAIN, dunia keislaman dan dunia keagamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman hidupnya. Agama merupakan bagian dari masyarakat yang harusnya mencerahkan, memanusiakan tetapi dalam fenomenanya sering kali itu menjadi yang membatasi, memisahkan, memecah belah atau membuat terjadinya huru-hara kemanusiaan itu yang membuatnya sedih dan menjadi prihatin ingin membuat perubahan dengan membongkar pengetahuan-pengetahuan hubungan antara media dengan agama.
Melihat perkembangan media sosial sekarang ini dan dikaitkan dengan nilai-nilai agama yang telah terjadi sekarang, Husnan pun ikut berpendapat bahwa adanya media sosial, agama berkembang dengan cepat menjadi sebuah identitas kelompok sering kali agama digunakan alat untuk hanya untuk menjustifikasi atau memberikan label kepada kelompok tertentu atau kepada diri sehingga ketika di media sosial punya pandangan tertentu setiap pandangan berbeda dianggap sebagai masalah dan dianggap bukan bagian dari kelompoknya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika orang saling menyerang satu sama lain dengan perbedaan itu dan itulah media sosial memasifkan dengan cepat, membuat agama dijadikan kesadaran tetapi tidak dijadikan pemahaman yang mendalam itulah kelemahan dari media sosial.
Ketika ditanya mengenai cara mengajar di kelas apakah membawa nilai-nilai religius ia langsung menjawab “Religius yang saya pahami bukan religius yang kamu pahami,”. Religius menurutnya yaitu berkata benar, membela keadilan, memanusiakan manusia karena islam mengajarkan itu.
Mengenai harapan ke depan untuk jurusan Ilmu Komunikasi Untirta, peningkatan kualitas menjadi harapannya. “Memperbaiki sistem agar lebih baik, sistem yang penting. Tidak penting dapat akreditasi A, kalau sistemnya tidak setara dengan A. Sering kali orang ingin dapat A akreditasi hanya A-nya tapi yang dicari bukan perbaikannya kalau saya lebih penting kita memperbaiki diri betul-betul, meningkatkan kualitas kita, soal A atau B itu penilaian orang lain yang penting kitanya jadi baik itu saja yang saya ingin ubah, ingin menjadi bagian dari perubahan itu kalau memungkinkan,” tutupnya. (JCH/HNI/Newsroom)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar