Ketika Wartawan Bercerita - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 08 Mei 2018

Ketika Wartawan Bercerita

Reporter : Aina Aristia
Redaktur : Jasmine P. Larasati






Wartawan Newsroom FISIP sedang melakukan wawancara dengan narasumber. Dokumentasi oleh Desvan Verdiansyah.

SERANG – Ketika bicara soal pers, tak sedikit orang yang menyamakan dengan jurnalistik. Padahal nyatanya, jurnalistik merupakan bagian dari anggota pers. Sedangkan orang yang bekerja di dalam jurnalistik disebut dengan jurnalis atau lebih dikenal dengan nama wartawan.
“Wartawan adalah pekerjaan yang dimana membutuhkan keahlian dalam mengelola informasi yang didapatkannya dengan cara mengkonfirmasi kepada narasumber. Selain itu, kita juga dituntut untuk memberikan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Jurnalistik adalah proses kerja yang berhubungan dengan peliputan, pengumpulan bahan berita, kemudian penulisan berita, seorang wartawan harus menangani pekerjaan tersebut. Setidaknya wartawan harus punya bekal kemampuan dasar ilmu komunikasi, memiliki jaringan narasumber berita, terampil mewawancara dan menulis,” terang seorang wartawan yang sedang bekerja di palima.id, Firman Arief (27) (8/5).
Dalam menjalankan pekerjaan sebagai wartawan, tentunya memiliki kekurangan dan kelebihannya yang harus dihadapi.
“Kita harus benar-benar berada di lapangan dan real memberitakan peristiwa kejadian tersebut. Apalagi lokasi kejadian berada cukup jauh, misalkan di atas gunung, di pedalaman, dan lain sebagainya. Selain itu, jika saat kebanjiran, kita harus berada di dalam situasi tersebut, meski nyawa taruhannya kita harus benar-benar merasakan situasi dan kondisi di lapangan. Hal yang paling mendebarkan adalah saat peristiwa penggerebekan teroris, pelaku tindak kriminal, kita harus di belakang untuk mendapatkan video yang real. Oh ya lupa, ketika saat kita bawa kendaraan di tengah perjalanan kita mengalami kendala. Entah itu ban bocor, kendaraan mogok, jalan yang salah dan lain sebagainya. Ditambah kita dituntut untuk membuat berita sebelum deadline dari perusahaan untuk mengejar tayang yang akan diinformasikan kepada masyarakat luas,” ucap pemilik akun instagram @firman_arief.
Wartawan dapat dikatakan sebagai pekerjaan penuh tantangan yang juga merupakan pilar keempat dari demokrasi di suatu negara.
“Menurut Saya menjadi seorang wartawan adalah sebuah profesi yang sangat penuh tantangan. Karena, kita sebagai wartawan harus bisa menjadi penyambung lidah antara pihak kekuasaan dengan rakyat, maupun sebaliknya. Selain itu, wartawan yang baik adalah wartawan yang ketika mendapatkan informasi berita, entah itu dari sumber masyarakat, pemerintah, kepolisian, kita tetep harus bisa menjaga kode etik seorang jurnalis, agar berita atau informasi yang disampaikan nantinya dalam bentuk berita tidak berpihak kesalahsatunya. Karena wartawan adalah pilar keempat demokrasi. Jadi tanpa kita, demokrasi di suatu negara tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya seorang wartawan,” jelas Firman Arief yang juga pernah bekerja disalah satu stasiun televisi swasta. (AA/JPL/NEWSROOM)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar