Mahasiswa Bantu Buruh Tuntut Reformasi Ekonomi - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 08 Mei 2018

Mahasiswa Bantu Buruh Tuntut Reformasi Ekonomi

Reporter : Hemaswari Tantia
Redaktur : Selvi Mayasari





Aksi Para Buruh di Banten (sumber: Beritasatu.com)

SERANG - Setiap 1 Mei, seluruh dunia merayakan International Workers Day atau Hari Buruh Internasional yang dikenal dengan nama May Day. Peringatan Hari Buruh untuk memperjuangkan hak para pekerja di seluruh dunia. Sama hal nya dengan di Serang, Banten.
May Day mulai diperingati pada 1920. Setelah sempat meredup pada era Orde Baru, peringatan Hari Buruh Internasional kembali semarak selepas Reformasi 1998. Puncaknya pada 29 Juli 2013, yakni ketika Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Dari tahun ke tahun tuntutan para buruh selalu identik dengan perbaikan kesejahteraan dari sisi upah sebagai bagian intinya. Hanya ada satu-dua tuntutan yang berubah di tiap peringatan ini. Sebagai contoh tahun ini, yakni Pencabutan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing sebagai salah satu tuntutan buruh.
Terlepas dari seluruh tuntutan yang muncul pada peringatan May Day tahun ini, tak dapat dipungkiri pula bahwa tantangan yang menyelimuti kerja-kerja para buruh belakangan ini sungguh tidak mudah.
Dilansir dari Kompas.com, Secara makroekonomi, inflasi memang masih terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) selaku otoritas berwenang mencatat inflasi tahunan (Maret 2018) baru 3,4 persen atau di bawah target pemerintah dalam APBN 3,5 persen.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kenaikan harga-harga masih sulit dikendalikan. Misalnya, harga beras kualitas medium yang masih berada di atas Rp 10 ribu per kg. Belum lagi ongkos transportasi perlahan memberatkan akibat premium yang semakin sulit diperoleh.
Menurut Ana (48) selaku Karywan Jasa Marga menuturkan bahwa “buruh saat ini masih terbilang belum sejahtera. Karena rata-rata upah yang belum sepadan dengan pengeluaran sehari-hari.”
“Kaum buruh hari ini cukup tertindas dan sama sekali tidak sejahtera, karena dampak dari imprealis Amerika Serikat yang semakin menekan upah buruh,” tutur Akbar (20) selaku aktivis kampus UNTIRTA. Kamis (3/5).
Menurutnya, pemerintah sudah seharusnya melepas keterkaitan mereka terhadap kaum imprealis dan lebih memilih berpolitik untuk masyarakat Indonesia, bukan berpolitik untuk perekonomian individu atau kelompok mereka masing-masing.
Seharusnya, kita semua bisa memanfaatkan momentum kali ini sebagai stimulus untuk bisa saling berkontribusi membantu proses memperbaiki ekonomi Indonesia yang tengah dibelit banyak persoalan krusial berupa melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta persoalan perekonomian nasional lainnya yang perlu diatasi.(TIA/SLV/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar