Menristekdikti: Menolak Politik Masuk Kampus - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 01 Mei 2018

Menristekdikti: Menolak Politik Masuk Kampus

Reporter : Eksa Tania Putri
Redaktur : Fatimatul Zahra





Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir mengatakan bahwa berpolitik tidak dilarang tetapi tidak boleh dilakukan di Kampus. (sumber: google.com)

SERANG – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi manyatakan kampus bukan merupakan arena politik dan mahasiswa tugasnya hanya belajar dan sebagai pemain politik. Dilansir dari tempo.co, Muhamad Nasir mengatakan bahwa perguruan tinggi merupakan  sarana mahasiswa untuk menimba ilmu pengetahuan untuk masa depan mereka yang lebih baik, jika ingin berpolitik silahkan dilaksanakan di luar kampus.
 “Saya setuju dengan pernyataan Menristekdikti terkait kampus bukan arena untuk berpolitik. Kampus harus bisa memposisikan diri sebagai lembaga yang independen serta sebagai sarana mengedepankan kecerdaskan politik mahasiswa untuk bekal kehidupan setelah lulus perguruan tinggi,” kata Presiden Mahasiswa Untirta, M. Fadli menanggapi pernyataan Menristekdikti.
Di tempat terpisah, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, Gusti Rahman mengatakan setuju dengan pernyataan Menristekdikti bahwa seharusnya mahasiswa itu tugasnya belajar bukan sebagai pemain politik yang menggunakan politik praktis.
Menurutnya, kampus sebagai laboratorium mahasiswa untuk belajar dan mengeksplor diri, bukan sebagai arena praktik politik praktis. Politik praktis yaitu upaya  para aktor politik untuk memperoleh kekuasaan melalui mahasiswa sebagai perantaranya karena mahasiswa memiliki kedudukan yang strategis dalam artian dapat memasuki berbagai kalangan masyarakat. ungkapnya saat diwawancarai pada Jumat (27/4).
Ia juga menambahkan “Cara untuk tidak mengikuti agenda politik praktis di kampus yaitu dengan mengetahui arti politik dan bisa membedakannya. Jadi, kita bisa sadar secara naluri bahwa kepentingan politik praktis di kampus itu tidak baik karena dapat merusak marwah mahasiswa itu sendiri,”
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Untirta mengatakan bahwa politik praktis di lingkungan kampus terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara aktor politik dengan sayap-sayap organisasi partai politik tersebut yang berada di kampus.
Menurutnya, upaya untuk mengurangi praktik politik praktis di Kampus dengan cara memahami dampak dan tujuan dari politik praktis itu sendiri sehingga akan menimbulkan kesadaran naluriah untuk tidak mengikuti agenda politik praktis di Kampus.
Dalam pandangannya mahasiswa harus menjunjung tinggi idealisme sebagai kemewahan terakhirnya dan mempertahankan esensi mahasiswa sebagai pengamal tri dharma perguruan tinggi, jangan sampai terbawa arus politik praktis.
”Harapan Saya untuk seluruh mahasiswa, kedepankanlah idelisme kita tentang bagaimana cara kita berproses. Kedepankanlah logika kita, jangan sampai logika kita dibeli oleh logistic yang ditawarkan aktor politik,” tutupnya. (ET/FZ/NEWSROOM)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar