Ronny dan Dunia Radionya - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 08 Mei 2018

Ronny dan Dunia Radionya

Reporter : Andhika Firman Agung
Redaktur : Hani Maulia





Sumber Facebook: Ronny Septa Tea


  

It’s nothing” begitu yang ia lontarkan ketika ditanyakan mengapa memilih menjadi penyiar radio di saat sudah menjadi dosen. Menurut Ronny, sebagai seorang dosen produksi siaran radio, ia juga harus mempunyai pengalaman langsung di dunia tersebut. Dia sendiri tidak mau di cap sebagai dosen yang hanya ngomong doang oleh mahasiswa, kalau istilah zaman sekarang mungkin bisa dibilang omdo.
Lahir dari keluarga pendidik, Ronny Yudhi Septa Priana sudah tertarik dengan dunia radio sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketertarikannya tersebut membuat dirinya terjerumus ke dunia teater. Bukan untuk berakting, ia hanya ingin melatih vokalnya untuk menjadi seorang penyiar yang handal.
Setelah lulus dari sekolah menengah, dirinya bertolak ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan diploma tiga jurusan penyiaran. Ilmu dalam hal penyiaran terus ia dapatkan ketika menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran. Salah satunya, ia sempat mengikuti program pelatihan penyiar yang diadakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Dari banyaknya peserta yang mendaftar, hanya 25 orang yang dipilih untuk mengikuti program tersebut. Dan beruntungnya, walaupun mendapatkan peringkat ke-25, Ronny berhasil lolos dan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan sebagai penyiar bersama 24 peserta lainnya.
Program pelatihan tersebut membawa pria kelahiran Sumedang ini menapaki dunia penyiaran secara profesional. Setelah program dari RRI Bandung selesai, Ronny ditempatkan di beberapa radio swasta di Bandung di antaranya Fire FM dan Raka FM. Sejak saat itu, Ronny dan dunia radio mungkin adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Tidak hanya radio di Bandung, radio-radio di Kota Serang, juga memiliki pengalaman dengan dirinya. Di Serang ia mengaku pernah menjadi penyiar Dimensi FM, Power Hits (Sekarang X Channel), dan yang sampai saat ini ia masih terlibat di dalamnya adalah Serang Gawe FM.
Gelar diploma ia dapat, dirinya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Tak puas dengan gelar yang ia miliki, dirinya melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di kota tempat tinggalnya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
“Kebetulan saat itu Untirta membuka jalur non regular pertama tahun ajaran 2005-2006. Saat itu saya sudah bekerja menjadi penyiar radio, master of ceremony (mc), dan reporter di salah satu majalah lokal di Serang. Saya pikir non reguler kan untuk mahasiswa yang sudah bekerja, makannya saya masuk. Itu kesempatan baik menurut saya dan dapat dilaksanakan sembari kerja,” ceritanya pada Minggu (29/04).
Ketika di Untirta, Ronny melihat terdapat celah kosong di kampusnya tersebut. Laboratorium, itu yang belum tersedia ketika ia menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di sana. Dibantu  dosennya, Yoki Susanto dan Neka Fitria, ia mengusulkan kepada ketua jurusan untuk membuat laboratorium radio dan televisi. Setelah disetujui, karena dirinya yang mengusulkan, maka dirinya pula yang ditunjuk sebagai pengurus laboratorium atau yang biasa disebut dengan laboran. Pengalamannya sebagai praktisi komunikasi sangat membantu dirinya dalam mengelola lab tersebut.
Kecintaannya terhadap almamater, menggiring dirinya untuk menjadi dosen tetap di kampus yang bersebelahan dengan terminal pakupatan itu. Di tahun 2013 ia medapatkan gelar magister dari Universitas Indonesia, di tahun tersebut pula ia mengikuti tes masuk untuk menjadi dosen ilmu komunikasi Untirta. Dinyatakan lolos, dirinya ditetapkan untuk menjadi dosen mata kuliah produksi siaran radio, event management, kampanye propaganda, dan hukum etika profesi public relation.
“Ketika jadi dosen pun, ditanya, mata kuliah apa yang mau di ajar? salah satu kompetensi saya di radio, yaudah produksi siaran  radio. Yang kedua, saya pernah kerja di event organizing yaudah mata kuliah event management yang saja ajar,” jelasnya ketika ditanyakan apa alasan memilih mengajar mata kuliah tersebut.
Profesinya sebagai dosen tidak membuatnya melupakan radio, selain dirinya yang masih terlibat dalam produksi Serang Gawe FM, dirinya juga ditunjuk menjadi kepala laboratorium radio, dan dosen pembimbing komunitas radio di Untirta yaitu Tirta FM.
“Karena saya mengajar hal yang berhubungan dengan hal tersebut, ya sampai saya pensiun jadi dosen. Entah sampai kapan saya di dunia radio, belum tahu. Sampai saya gantung mic kayaknya,” tutur Ronny sembari tertawa. (AFA/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar