Yoki Yusanto: Jadi Wartawan Harus Totalitas Agar Berkualitas - Newsroom Fisip UNTIRTA

Breaking

Selasa, 15 Mei 2018

Yoki Yusanto: Jadi Wartawan Harus Totalitas Agar Berkualitas

Reporter : Marcel Faldi
Redaktur : Hani Maulia




Yoki Yusanto , Dosen Ilmu Komunikasi Untirta
(Sumber: facebook Jalaludin Ardiansyah)

Pak Yoki, begitulah sapaan akrab yang biasa ditujukan oleh mahasiswa untuk dirinya. Pria lulusan Universitas Islam Bandung dan Universitas Padajajaran ini memiliki segudang pengalaman di bidang jurnalistik yang  ia dapatkan sebelum akhirnya  memutuskan untuk berhenti dan  mengabdikan dirinya secara total di dunia pendidikan dengan  menjadi dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Cita-citanya untuk menjadi wartawan tercapai dan berlangsung dengan baik dimana hal itu terlihat dari keberhasilanya bekerja dibanyak instansi media massa, dan sekarang sebagai dosen ia menginginkan  mahasiswanya yang ingin jadi jurnalis untuk bersikap totalitas.
Yoki memulai karier sebagai jurnalis di Tabloid Moderator pada tahun 2001 dimana saat itu dirinya baru saja lulus dari studi sarjananya di Unisba. Baru satu bulan bekerja dirinya sudah mendapatkan tantangan yang menarik dimana pada saat itu ia ditugaskan untuk meliput konflik Madura dan Dayak. “Pada waktu itu saya langsung disuruh meliput konflik Madura dan Dayak di Kalimantan sampai saya wawancara orang yang sering tebas leher orang Madura dan juga meliput di tempat penampungan Madura di Pontianak,” Kata Yoki pada Jumat (5/11).
Lalu ia juga pernah diberikan kepercayaan oleh Koran Rakyat Merdeka dimana ia ditempatkan diberbagai Job Desk wartawan. Ia pernah ditempatkan menjadi wartawan kriminal dan wartawan hiburan. Ketika menjadi wartawan hiburan banyak tulisanya yang dijadikan rujukan oleh berbagai acara infotainment di televisi. “Ketika saya berkiprah sebagai wartawan hiburan itu acara infotainment di televisi seperti Cek dan Ricek , Hot Shot itu rujukanya tuh berita-berita saya di Harian Rakyat Merdeka,” ungkapnya.
Eksis sebagai wartawan hiburan membuat nama Yoki semakin dikenal melalui tulisannya yang menarik  ia mampu membuat berbagai acara televisi merekrut dirinya seperti acara Cek dan Ricek dan beberapa acara infotainment pada saat itu. Dirinya juga berjasa dalam melambungkan nama Silet acara infotainment di RCTI yang pernah berhasil meraih rating tertinggi untuk acara infotainment. “Saya pada tahun 2003 diajak oleh Yeni Yudika untuk bergabung ke Silet dan hanya dengan waktu tiga bulan saja saat itu acara Silet sudah menjadi yang terbaik ya berkat saya, Yeny dan Mulya wartawan asal Cilegon,” ceritanya.
Selain RCTI, televisi nasional lain seperti Lativi dan  Metro TV juga pernah memakai jasanya dalam bidang kejurnalistikan. Di Lativi Yoki bekerja selama satu tahun dan membuat sebuah acara berjudul Papparazi lalu ia mengabdikan diri sebagai jurnalis di Metro TV selama lima tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk mantap menjadi dosen saja tahun 2009. Sebagai dosen ia tidak hanya mengajar mata kuliah dalam bidang jurnalistik tetapi juga mengajar pada konsentrasi humas dan periklanan. Walaupun telah mantap menjadi dosen,  dunia jurnalis juga tidak sepenuhnya ia tinggalkan, sekarang Yoki juga tergabung dalam Production House untuk acara televisi TV One dan ANTV. “Saya pimpinan  production di Bandung, ada PH untuk TV One dan untuk ANTV, membuat program acara talkshow, itu seminggu sekali di TV One dan ANTV. Nama programnya “Apa Kabar Daerah” di TV One dan di ANTV “Bincang Tokoh Bandung” namun itu hanya untuk TV lokal Bandung saja dan disitu saya sebagai komisaris utama,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan pandangannya mengenai jurnalis sekarang yang menurutnya kurang berani, tidak idealis, dan kurangnya konfirmasi dalam produksi berita. “Jurnalis sekarang kurang keberanian, idealis, dan mudah menyerah ya itu yang saya kritik dan kurangnya konfirmasi data, banyak berita kriminal yang kemarin seperti kasus Brimob itu dangkal. Sedangkan ketika saya menulis berita tentang pencopetan saja  itu harus bergaul dengan copet, konfirmasi. Nah sekarang jurnalis kalau sudah dapat keterangan dari polisi tuh selesai, gak ada konfirmasi ke masyarakat,” ungkapnya.
Dengan menjadi dosen ia ingin menanamkan pemikiran kepada mahasiswa yang ingin menjadi seorang jurnalis. Bahwa menjadi jurnalis berarti harus siap untuk mengabdi kepada kebenaran dan  mengabdi untuk masyarakat. Ia juga berharap untuk calon juranlis agar totalitas jika ingin menjadi jurnalis dan ketika sudah menjadi jurnalis. “Saya ingin mahasiswa yang jadi wartawan ya harus totalitas pokoknya supaya nanti bisa jadi jurnalis yang berkualitas,” tutur Dosen Untirta itu. (MF/HNI/Newsroom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar